Lahan Sawit milik PTPN IV Regional VI di Kebun Cot Girek, Aceh Utara.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelemahan rupiah berdampak signifikan pada sektor komoditas pangan dan pertanian. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpotensi membebani industri sawit nasional jika berlangsung dalam jangka panjang.
Kenaikan biaya impor pupuk, suku cadang kendaraan, alat berat, hingga kebutuhan pabrik dinilai dapat meningkatkan ongkos operasional industri tersebut. Nilai tukar rupiah pada Senin (18/5/2026) berada di level Rp17.658 per dolar AS atau melemah sekitar 61 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.597 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah sentimen global akibat ketidakpastian geopolitik dan penguatan dolar AS di pasar internasional. Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan industri sawit masih memiliki ketergantungan cukup besar terhadap komponen impor, terutama untuk kebutuhan perawatan kebun dan operasional pabrik.
“Rupiah melemah kalau berkepanjangan biaya yang masih menggunakan komponen impor seperti pupuk, suku cadang kendaraan, alat berat dan pabrik akan naik,” kata Eddy kepada Republika, Senin (18/5/2026).
Ia menjelaskan biaya pemupukan menjadi salah satu komponen terbesar dalam operasional perkebunan sawit. Kondisi itu membuat kenaikan harga pupuk akibat depresiasi rupiah dapat langsung memengaruhi struktur biaya perusahaan.
Menurut Eddy, biaya pemupukan mencapai sekitar 40 persen dari total biaya perawatan kebun sawit.
“Biaya pemupukan sekitar 40 persen dari biaya perawatan, jadi kalau harga pupuk naik akan membebani, walaupun dengan pelemahan rupiah harga dalam negeri juga naik. Tetapi ini kalau jangka panjang justru tidak menguntungkan,” ujarnya.
Ia menilai pelemahan rupiah juga tidak otomatis mendongkrak kinerja ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Indonesia memang merupakan eksportir CPO terbesar di dunia, namun transaksi ekspor tetap menggunakan mata uang dolar AS sehingga harga jual internasional tidak berubah.
Eddy mengatakan penguatan dolar terhadap rupiah hanya memberi efek terbatas terhadap penerimaan eksportir sawit.
“Ekspor belum tentu naik dengan pelemahan rupiah, sebab mata uang yang digunakan untuk transaksi ekspor kan USD, jadi harga secara dolar tetap sama, tidak berubah,” tutur Ketua Umum GAKPI ini.
Tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya sentimen risk off global di tengah ketidakpastian geopolitik dan pergerakan pasar internasional. Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS dan pelemahan berbagai aset keuangan global.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pasar global masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, termasuk potensi eskalasi ketegangan dan dampaknya terhadap negosiasi geopolitik global. Sentimen tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.

5 hours ago
4















































