Peserta Ujian Masuk Jalur Disabilitas UNJ Meningkat

11 hours ago 5

JUMLAH peserta ujian masuk jalur disabilitas Universitas Negeri Jakarta (UNJ) meningkat tahun ini. Pada 2026, UNJ mencatat kenaikannya mencapai 9,6 persen dibandingkan tahun lalu.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Kepala Kantor Admisi UNJ I Wayan Sugita mengatakan peserta penerimaan mahasiswa baru (Penmaba) mandiri jalur disabilitas di kampusnya pada tahun ini sebanyak 138 orang. "Naik dibandingkan tahun 2025 yang berjumlah 125 orang," kata Wayan dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 18 Juli 2026.

Menurut Wayan, peningkatan jumlah peserta menunjukkan semakin besarnya minat disabilitas untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Di sisi lain, ia yakin kebijakan pendidikan inklusif yang disediakan UNJ juga mempengaruhi meningkatnya jumlah pendaftar.

Ia menjelaskan, tiga fakultas yang paling banyak diminati peserta jalur disabilitas tahun ini adalah Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Pendidikan, serta Fakultas Bahasa dan Seni UNJ. Sementara program studi yang mencatat jumlah peminat tertinggi adalah Program Sarjana Terapan Seni Kuliner dan Pengelolaan Jasa Makanan.

Seleksi Penmaba Mandiri Jalur Disabilitas dilaksanakan secara luring di Gedung Dewi Sartika (GDS) UNJ, Jakarta. Gedung tersebut dipilih karena memiliki berbagai fasilitas pendukung aksesibilitas, seperti jalur khusus bagi pengguna kursi roda dan lift yang dilengkapi penanda huruf braille.

Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni UNJ Ifan Iskandar mengatakan jalur disabilitas merupakan bagian dari upaya kampus untuk memastikan setiap orang punya kesempatan mengakses pendidikan tinggi. "Karena itu, layanan pendukung terus kami siapkan agar proses seleksi berjalan secara adil dan aksesibel," tutur Ifan.

Menurut keterangan UNJ, ujian masuk jalur disabilitas diikuti peserta dengan kebutuhan berbeda-beda. Salah satu pendaftar, Shafa Keila Wardhani, adalah peserta dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Shafa mendaftar di Program Studi Tata Rias Fakultas Teknik (FT) dengan rencana berkarier sebagai make-up artist. Mendaftar perguruan tinggi, kata dia, adalah upayanya meningkatkan kompetensi agar mampu bersaing di dunia kerja. "Awalnya saya pernah di-bully, direndahkan. Tetapi saya berusaha bangkit karena keluarga selalu mendukung saya," ujar Shafa.

Peserta lainnya, Dehan, adalah lulusan SLB A Pembina Tingkat Nasional Jakarta yang merupakan disabilitas tunanetra. Ia memilih Program Studi Pendidikan Khusus Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). 

Pilihan tersebut didorong oleh keinginannya untuk berkontribusi untuk dunia pendidikan bagi disabilitas. "Saya senang melihat cara guru mengajar. Dari situ saya mulai tertarik dengan pendidikan khusus," ucapnya.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |