Radea Respati Paramudhita Dukung Kolaborasi Lintas Sektor untuk Pemberdayaan Warga Binaan

4 hours ago 2

INFO TEMPO – Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Bandung, Jawa Barat, Radea Respati Paramudhita menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, lembaga pemasyarakatan, dunia usaha, dan masyarakat untuk program pemberdayaan warga binaan. Kolaborasi lintas sektor itu diperlukan agar program tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, melainkan dapat berkelanjutan dan memberi manfaat jangka panjang bagi warga binaan.

"Yang paling penting adalah keberlanjutan,” kata Radea yang hadir dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Kelompok Cabang Keilmuan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyatama bertema "Ecopreneurship Berbasis Daur Ulang Limbah Plastik Rumah Tangga sebagai Upaya Pemberdayaan Ekonomi Warga Binaan" di Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Selasa, 18 Agustus 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Menurut dia, setelah diberi pelatihan dan menghasilkan produk, harus ada pendampingan berikutnya, termasuk bagaimana produk tersebut dikembangkan, dipromosikan, dan mendapatkan akses pasar. Karena itu, sinergi dengan Pemerintah Kota Bandung juga penting, khususnya dalam membuka peluang pemasaran bagi produk hasil karya warga binaan. 

Radea pun mengapresiasi kegiatan PKM yang diketuai Rima Rahmayanti, dengan anggota Shinta Oktafien, Pipin Sukandi, Imanirrahma Salsabil, Nina Nurani, Darwis Agustriyana, Dwinto Martri Aji Buana, Indra Taruna Anggapradja, Nabila Tri Hapsari Najwar, dan Isra Detia Haloho. Dalam kegiatan tersebut hadir perwakilan Pemerintah Kota Bandung, di antaranya dari Sekretariat DPRD, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, serta unsur kewilayahan setempat.

Menurut dia, kehadiran perwakilan Dinas Lingkungan Hidup serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian dalam kegiatan ini dinilai menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan program, mengingat kedua dinas tersebut memiliki peran strategis, baik dalam pengelolaan sampah maupun pembukaan akses pasar bagi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pemerintah daerah, dia melanjutkan, dapat berperan sebagai fasilitator dengan mempertemukan produk-produk tersebut dengan berbagai kanal pemasaran, pelaku UMKM, ataupun ruang promosi yang tersedia.

Sementara itu, terkait dengan program yang diselenggarakan, menurut Radea, hal itu merupakan langkah konkret dalam meningkatkan keterampilan, kreativitas, serta kemandirian ekonomi warga binaan, khususnya perempuan, melalui pemanfaatan limbah plastik rumah tangga menjadi produk bernilai guna dan bernilai ekonomi.

Konsep ecopreneurship memiliki manfaat ganda. Pertama, membantu mengurangi timbulan sampah, khususnya limbah plastik rumah tangga. Kedua, membuka peluang ekonomi melalui kreativitas dan keterampilan dalam mengolah limbah menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Radea menilai pendekatan tersebut sejalan dengan upaya pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian persoalan lingkungan, tapi juga mampu menciptakan peluang usaha dan meningkatkan kemandirian ekonomi.

Dia berharap model pemberdayaan berbasis ecopreneurship dapat terus dikembangkan sebagai salah satu pendekatan dalam membangun kemandirian warga binaan, sekaligus mendukung upaya pengurangan sampah dan penguatan ekonomi masyarakat.

Pemberdayaan warga binaan tidak cukup hanya dilakukan melalui pemberian keterampilan teknis. Diperlukan ekosistem yang mampu menghubungkan proses pelatihan, pengembangan produk, hingga pemasaran, sehingga hasil karya warga binaan dapat memberikan manfaat ekonomi secara nyata.

"Kita tentu sangat mengapresiasi kegiatan ini. Yang diberikan bukan hanya ilmu dan keterampilan, tapi juga bagaimana warga binaan dapat melihat bahwa sesuatu yang selama ini dianggap sampah ternyata bisa diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi," ujarnya.

Radea menuturkan keberhasilan program pemberdayaan warga binaan tidak semata-mata diukur dari jumlah produk yang dihasilkan. Lebih dari itu, keberhasilan juga terlihat dari meningkatnya keterampilan, tumbuhnya kepercayaan diri, serta kesiapan warga binaan untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri.

Dia pun berharap kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan Universitas Widyatama dapat menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas dan berkelanjutan. Menurut dia, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mentransformasikan pengetahuan, kreativitas, dan inovasi menjadi solusi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Aktivitas kolaborasi seperti ini tidak boleh berhenti di sini dan bisa terus disinkronisasikan dengan program Pemerintah Kota Bandung serta dikembangkan di berbagai wilayah. Dengan begitu, ilmu yang dimiliki para dosen dan perguruan tinggi benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," kata Radea. (*)

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |