REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatat kenaikan tertinggi di antara saham perbankan pada perdagangan Jumat (17/7/2026). Saham berkode BRIS itu melonjak 9,77 persen atau naik 170 poin ke level 1.910, seiring mulai kembalinya aksi beli investor asing pada saham-saham perbankan.
Penguatan BRIS terjadi di tengah membaiknya sentimen pasar modal domestik. Setelah sepanjang tahun ini lebih banyak mencatatkan penjualan bersih (net sell), investor asing mulai kembali melakukan pembelian saham.
Pada perdagangan Kamis (16/7/2-26), investor asing membukukan pembelian bersih (net buy) sekitar Rp1,22 triliun di seluruh pasar dengan saham-saham perbankan seperti BBCA dan BMRI menjadi incaran utama. Tren tersebut berlanjut pada sesi pertama perdagangan Jumat.
Meski nilai pembelian bersih asing lebih kecil dibandingkan sehari sebelumnya, minat terhadap saham perbankan masih terjaga dan turut mendorong penguatan saham BRIS. Sepanjang perdagangan, saham BRIS ditransaksikan sebanyak 64,8 juta saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 116,6 miliar.
Antrean beli juga lebih besar dibandingkan antrean jual menjelang penutupan perdagangan, mencerminkan minat beli yang masih kuat. Selain ditopang sentimen pasar, penguatan saham BRIS juga didukung kinerja perseroan yang tetap solid.
Pada kuartal pertama 2026, BSI membukukan laba bersih Rp 2,2 triliun, naik 17,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan pembiayaan sebesar 14,4 persen secara tahunan, peningkatan net interest margin (NIM) menjadi 5,6 persen, serta penurunan beban provisi sebesar 6,8 persen.
Dari sisi pendanaan, dana murah (current account saving account/CASA) tumbuh 21,4 persen dibandingkan kuartal pertama 2025. Pertumbuhan itu didorong kenaikan tabungan sebesar 20 persen dan giro 24 persen.
Investor Relation BSI Rizky Budinanda menjelaskan, meski mencatat lonjakan pada perdagangan, saham BRIS masih berada dalam fase pemulihan setelah mengalami koreksi dalam setahun terakhir. Menurut dia, investor tetap perlu mencermati sejumlah tantangan, seperti tekanan biaya dana (cost of fund) dan potensi dilusi akibat pemenuhan ketentuan free float minimum.
Meski demikian, kata Rizky, kombinasi membaiknya sentimen pasar dan fundamental perseroan yang tetap terjaga. Hal itu dinilai menjadi penopang penguatan saham BRIS di tengah mulai pulihnya minat investor terhadap sektor perbankan

10 hours ago
8














































