M. Fatih Azzam Alfaridzi
Sinau | 2026-07-11 13:42:48
Akademik dan Akhlak Menurut Filsafat Pendidikan Islam
Oleh: Muhammad Fatih Azzam Alfaridzi
Komunikasi dan Penyiaran Islam, Universitas Ibn Khaldun Bogor
Saya masih ingat betul obrolan dengan teman SMA beberapa waktu lalu. Dia bercerita tentang adiknya yang sekarang duduk di bangku kelas 3 SMP. Nilai rapor adiknya bagus, masuk peringkat lima besar, tapi perilakunya bikin orang tua khawatir. Sering ketahuan berbohong, suka mem-bully teman yang dianggap "kurang keren", dan kalau dimarahi malah nyolot. Ibunya sampai bingung: "Sudah pintar kok moralnya begini?" Pertanyaan itu terus menghantui saya. Sebenarnya, apa yang salah dengan pendidikan kita?
Fenomena ini bukan cuma terjadi di lingkungan teman saya. Coba perhatikan berita akhir-akhir ini. Di satu sisi, prestasi akademik anak-anak Indonesia terus meningkat. Nilai ujian naik. Banyak siswa kita menang olimpiade. Tapi di sisi lain, kasus perundungan, tawuran pelajar, dan perilaku intoleran justru marak terjadi (Kajian tentang Krisis Moral dan Pendidikan Karakter, 2026). Jujur saja, saya merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Pendidikan kita seperti sedang berlomba mengejar angka dan peringkat. Orang tua berebut menyekolahkan anaknya di sekolah favorit. Guru-guru kewalahan mengejar target kurikulum. Sementara itu, pembentukan karakter seolah-olah jadi urusan nomor dua. Padahal, kalau boleh saya katakan, ini seperti membangun gedung megah tanpa fondasi yang kokoh. Tingginya prestasi akademik tidak ada artinya kalau moral anak-anak kita runtuh.
Di sinilah filsafat pendidikan Islam menawarkan perspektif yang menarik. Dalam Islam, pendidikan bukan cuma soal pintar secara intelektual. Lebih dari itu, pendidikan adalah proses membentuk manusia yang utuh berilmu dan berakhlak (Zulmuqim et al., 2022). Saya jadi teringat sabda Rasulullah Saw. yang sangat populer: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." Ini menunjukkan bahwa akhlak bukanlah pelengkap, melainkan inti dari misi kenabian. Jadi, kalau pendidikan kita hanya berhasil secara akademik tetapi gagal secara moral, berarti ada yang keliru dengan pemahaman kita tentang tujuan pendidikan.
Tulisan ini ingin mengajak kita semua merenung. Apa sih sebenarnya tujuan pendidikan Islam? Mengapa akademik dan akhlak tidak boleh dipisahkan? Apa yang menyebabkan sistem pendidikan kita sekarang kehilangan keseimbangan? Dan yang paling penting, apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya.
Memahami Akademik dan Akhlak dalam Pandangan Islam
Kalau kita mau jujur, banyak di antara kita yang masih memandang ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang netral sekadar informasi yang bisa digunakan untuk apa saja. Tapi dalam filsafat pendidikan Islam, pandangan seperti itu tidak berlaku. Ilmu dalam Islam selalu punya tujuan transendental, yaitu mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Imam Al-Ghazali, salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah pemikiran Islam, menulis dalam ihya' Ulum al-Din bahwa hasil dari ilmu adalah mendekatkan diri kepada Allah dan mengangkat derajat manusia ke tingkatan malaikat (Al-Ghazali, t.t.). Saya pribadi sering merenungkan pernyataan ini. Artinya, setiap kali kita belajar, kita sedang melakukan ibadah. Setiap kali kita mencari ilmu, kita seharusnya semakin sadar akan kebesaran Tuhan dan semakin rendah hati, bukan malah sombong karena merasa lebih pintar dari orang lain.
Lalu, apa itu akhlak dalam filsafat pendidikan Islam? Menurut para ulama, akhlak adalah tabiat yang sudah tertanam dalam jiwa dan menjadi sumber perbuatan yang muncul secara spontan (Zulmuqim et al., 2022). K.H. Imam Zarkasyi, pendiri Pondok Modern Gontor, memberikan definisi yang lebih praktis: akhlak adalah pedoman yang harus diikuti manusia dalam kehidupan sehari-hari, yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis (Tim Penyusun, 1996). Saya suka cara beliau mendefinisikan akhlak sebagai "pedoman" karena ini mengingatkan kita bahwa akhlak bukanlah sesuatu yang abstrak atau sulit dipahami. Ia adalah panduan konkret untuk bertindak dan bersikap.
Kalau kita gabungkan dua pemahaman ini, akan terlihat jelas bahwa ilmu dan akhlak sebenarnya tidak bisa dipisahkan. Ilmu tanpa akhlak ibarat pisau tajam di tangan orang gila berbahaya dan merusak. Dan akhlak tanpa ilmu ibarat orang buta yang ingin berjalan di jalan yang penuh lubang ia mungkin punya niat baik, tetapi tidak tahu arah yang benar.
Tujuan Pendidikan Islam yang Sering Dilupakan
Saya jadi teringat pelajaran agama di bangku sekolah dulu. Guru saya sering mengulang-ulang bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan misi Nabi Muhammad Saw. adalah menyempurnakan akhlak. Dua hal ini ibadah dan akhlak sebenarnya menjadi tujuan utama pendidikan dalam Islam.
Tapi sayangnya, dalam praktik pendidikan kita sehari-hari, tujuan ini sering dilupakan. Kita lebih sibuk mengejar nilai, peringkat, dan prestasi yang terukur secara kuantitatif. Kita lupa bahwa manusia itu makhluk yang kompleks, tidak hanya butuh otak yang cerdas tetapi juga hati yang bersih dan jiwa yang sehat (Zarita et al., 2025). Pendidikan yang hanya fokus pada satu aspek aspek kognitif sebenarnya menghasilkan manusia yang pincang. Pintar secara intelektual, tetapi miskin secara spiritual dan sosial.
Pelajaran dari Para Tokoh Filsafat Pendidikan Islam
Untuk memahami lebih dalam, saya ingin mengajak Anda melihat pandangan beberapa tokoh besar dalam filsafat pendidikan Islam. Masing-masing punya pendekatan yang unik, tetapi semuanya sepakat bahwa akhlak adalah jantung dari pendidikan.
Imam Al-Ghazali yang oleh umat Islam dijuluki Hujjatul Islam atau "Bukti Kebenaran Islam"memandang akhlak sebagai keseimbangan empat kekuatan dalam jiwa: nafsu, amarah, pengetahuan, dan keadilan (Pendidikan Karakter dalam Pemikiran Ibnu Miskawaih dan Al-Ghazali, 2025). Menurutnya, pendidikan harus diarahkan pada penyucian jiwa, yang dalam istilah Arab disebut tazkiyah al-nafs, dan pembiasaan moral atau riyadhah (Zulmuqim et al., 2022). Saya pribadi sangat tertarik dengan konsep riyadhah* ini. Ini mengingatkan saya pada latihan fisik di pesantren bukan untuk membentuk otot, tetapi untuk membentuk kebiasaan baik. Dan kebiasaan baik itulah yang lama-lama akan menjadi karakter.
Al-Ghazali juga memberikan peringatan keras: ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan kesombongan dan kehancuran. Coba bayangkan, betapa bahayanya seorang pengacara yang cerdas tetapi suka memanipulasi kebenaran, atau seorang ilmuwan yang brilian tetapi menggunakan pengetahuannya untuk merusak lingkungan. Inilah contoh nyata dari ilmu yang terlepas dari nilai-nilai moral.
Ibnu Khaldun, yang oleh banyak kalangan disebut sebagai bapak sosiologi modern, memiliki pendekatan yang berbeda. Baginya, pendidikan adalah proses pembudayaan. Akhlak terbentuk melalui pembiasaan dan pengaruh lingkungan sosial (Ibnu Khaldun, t.t.). Saya pikir pandangan ini sangat relevan dengan kondisi kita sekarang. Lingkungan sekolah, keluarga, dan media sosial sangat berpengaruh dalam membentuk karakter anak. Kalau lingkungannya buruk, akhlak anak pun akan sulit terbentuk dengan baik.
Ibnu Khaldun juga menekankan pentingnya metode bertahap dalam mendidik. Ia mengingatkan bahwa peserta didik tidak boleh dibebani dengan materi yang terlalu berat atau metode yang terlalu keras, karena itu justru akan membuat mereka bosan dan tidak bisa menyerap nilai-nilai dengan baik. Pesan ini penting untuk kita ingat, terutama di era di mana anak-anak sering kali dipaksa mengejar target kurikulum tanpa memerhatikan kesiapan psikologis mereka.
Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah salah satu filsuf Muslim kontemporer yang pemikirannya sangat memengaruhi dunia pendidikan Islam modern. Ia memperkenalkan konsep ta'dib yang menurut saya sangat segar dan relevan. Menurut al-Attas, pendidikan bukanlah sekadar pengajaran (ta'lim) atau pembinaan (tarbiyah), tetapi lebih dari itu, adalah proses menanamkan adab (Al-Attas, 1979). Adab di sini bukan hanya sopan santun dalam arti sempit, melainkan kesadaran akan posisi dan tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan, diri sendiri, dan masyarakat luas.
Konsep ta'dib ini mengubah cara kita memandang pendidikan. Ia tidak lagi sekadar transfer informasi dari guru ke murid, tetapi pembentukan kesadaran moral yang holistik. Saya pribadi merasa bahwa konsep ini sangat diperlukan di tengah arus informasi yang begitu deras dan sering kali tidak bertanggung jawab. Tanpa adab, informasi hanya akan menjadi kebisingan. Dengan adab, ia bisa menjadi ilmu yang bermanfaat.
K.H. Imam Zarkasyi tokoh yang sangat saya kagumi karena pendekatannya yang praktis dan aplikatif menegaskan bahwa akhlak adalah "ilmu bertindak." Maksudnya, akhlak adalah pengetahuan tentang jalan yang baik untuk hidup di masyarakat (Tim Penyusun, 1996). Saya suka definisi ini karena ia mengingatkan bahwa akhlak tidak bisa hanya dipelajari secara teoritis. Ia harus dipraktikkan. Dan untuk bisa mempraktikkannya, kita perlu tahu ukuran yang pasti. Imam Zarkasyi mengingatkan bahwa penilaian moral tidak boleh berdasarkan perasaan atau ikut-ikutan orang banyak, tetapi harus berpegang pada ajaran agama yang jelas.
Keempat tokoh ini meskipun berasal dari zaman dan latar belakang yang berbeda memiliki benang merah yang sama. Mereka semua menempatkan akhlak sebagai poros yang mempersatukan dimensi spiritual, intelektual, dan sosial manusia (Zulmuqim et al., 2022). Pendidikan, dalam pandangan mereka, tidak akan pernah berhasil jika hanya mengembangkan salah satu dimensi saja.
Mengapa Ketimpangan Terjadi?
Setelah memahami pandangan para tokoh di atas, saya jadi bertanya-tanya: mengapa sistem pendidikan kita sekarang justru menunjukkan ketimpangan yang begitu jelas antara prestasi akademik dan akhlak?
Menurut saya, ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini. Pertama, pendidikan kita terlalu pragmatis. Semuanya diukur dari hasil, bukan dari proses. Nilai ujian, peringkat kelas, dan masuk perguruan tinggi favorit menjadi satu-satunya tujuan. Orang tua dan sekolah berlomba-lomba mengejar angka, tanpa pernah bertanya: bagaimana sikap anak ini? Apakah ia jujur? Apakah ia bertanggung jawab? Apakah ia bisa menghormati orang lain? (Zulmuqim et al., 2022).
Kedua, dan ini yang paling memilukan, kita sendiri orang tua dan pendidik sering menjadi biang kerok. Kasus kecurangan dalam ujian nasional dan UTBK yang melibatkan orang tua adalah bukti nyata bahwa kita sudah kehilangan arah. Sebuah penelitian bahkan menunjukkan bahwa anak-anak pertama kali belajar kebohongan bukan dari teman sebaya atau media sosial, melainkan dari orang tua mereka sendiri (Tribrata News, 2025).
Coba renungkan ini: seorang ayah menyuruh anaknya belajar keras, tetapi diam-diam ia menyogok panitia ujian. Seorang ibu mengeluh anaknya tidak sopan, tetapi ia sendiri memaki-maki guru di depan anak. Apa yang sedang kita ajarkan kepada anak-anak kita? Nilai apa yang sedang kita tanamkan? Saya sering bertanya-tanya, apakah kita sadar bahwa tindakan-tindakan kecil seperti ini justru merusak fondasi moral yang sedang kita bangun?
Ketiga, era digital membawa tantangan yang sama sekali baru. Media sosial, yang seharusnya menjadi alat komunikasi dan pembelajaran, sering berubah menjadi ajang pamer prestasi, sumber kecemasan, dan tempat hilangnya kontrol moral. Kasus cyberbullying marak terjadi. Etika berkomunikasi di dunia maya sering kali sangat buruk (Astra et al., 2026).
Saya sering melihat fenomena ini di lingkungan kampus. Teman-teman yang sangat sopan di dunia nyata bisa berubah menjadi sangat kasar di media sosial. Mungkin karena mereka merasa tidak terlihat atau tidak ada konsekuensi langsung. Tapi justru di sinilah letak bahayanya. Hilangnya kontrol moral di dunia digital menunjukkan bahwa akhlak yang kita ajarkan masih sebatas penampilan, belum menjadi kebiasaan yang tertanam dalam jiwa.
Mengapa Filsafat Pendidikan Islam Tetap Relevan di Era Digital?
Di tengah semua tantangan ini, saya merasa filsafat pendidikan Islam menawarkan sesuatu yang tidak ditawarkan oleh sistem pendidikan lain: kerangka moral yang kokoh dan tidak berubah-ubah, tetapi tetap bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Dalam era Society 5.0, di mana segala sesuatu serba digital, seorang pendidik dituntut tidak hanya menguasai teknologi tetapi juga tetap menanamkan nilai-nilai sosial, kewirausahaan, dan kemampuan memecahkan masalah (Usiono, 2025). Guru PAI, misalnya, tidak cukup hanya mengajarkan hafalan surat pendek atau doa sehari-hari. Ia harus menjadi fasilitator yang mampu membentuk generasi yang cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual.
Nilai-nilai tauhid, akhlak, dan adab dalam filsafat pendidikan Islam, menurut saya, berfungsi sebagai mekanisme kontrol moral yang sangat efektif dalam menghadapi arus negatif media sosial (Astra et al., 2026). Pendidikan Islam tidak cukup hadir sebagai dogma yang dihafalkan, tetapi harus hadir sebagai energi yang membebaskan dari alienasi spiritual modern (Mubarok, 2025).
Saya jadi teringat pernyataan seorang kyai di pesantren tempat saya pernah belajar. Beliau bilang: "Akhlak itu bukan teori. Ia adalah praktik hidup. Kalau anak-anak zaman sekarang lupa sopan santun di media sosial, itu bukan salah teknologi, tetapi salah kita yang tidak mengajarkan mereka adab yang benar." Kalimat ini terus terngiang di telinga saya. Teknologi memang netral, tetapi manusialah yang menentukan bagaimana ia digunakan. Dan untuk bisa menggunakannya dengan benar, manusia butuh fondasi moral yang kuat.
Solusi atau Rekomendasi
Setelah merenungkan semua hal di atas, saya ingin menawarkan beberapa solusi mungkin tidak sempurna, tetapi setidaknya bisa menjadi titik awal. Saya sadar bahwa perubahan besar tidak terjadi dalam semalam, tetapi perjalanan seribu mil dimulai dari langkah pertama.
Pertama, dari sisi sekolah dan guru. Saya yakin pendidikan karakter tidak bisa hanya diandalkan pada satu mata pelajaran, misalnya Pendidikan Agama atau PKN. Karakter harus diintegrasikan dalam setiap mata pelajaran, bahkan dalam setiap interaksi di lingkungan sekolah. Filsafat pendidikan Islam harus menjadi landasan kurikulum yang holistik, bukan sekadar tambahan (Sumiati et al., 2025).
Yang lebih penting lagi, guru harus menjadi teladan nyata, bukan sekadar penyampai materi. Ketika seorang guru datang tepat waktu, berbicara dengan santun, dan menunjukkan kejujuran dalam setiap tindakannya, itulah pendidikan karakter yang paling efektif. Saya pernah bertemu guru yang sangat berdedikasi, dan saya masih mengingat nasihat-nasihatnya sampai sekarang bukan karena kata-katanya indah, tetapi karena ia mempraktikkannya.
Selain itu, budaya sekolah harus mendukung pembentukan akhlak melalui pembiasaan sehari-hari, bukan hanya melalui ceramah di atas panggung (Zulmuqim et al., 2022). Evaluasi juga harus menyeluruh tidak hanya mengukur aspek kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik.
Kedua, dari sisi keluarga dan orang tua. Saya yakin ini adalah elemen yang paling penting karena pendidikan karakter dimulai dari rumah. Orang tua harus menjadi mitra sekolah, bukan sekadar penonton yang hanya menuntut nilai tinggi. Diskusi sehat antara orang tua dan anak perlu dibangun, di mana anak merasa aman untuk mengakui kesalahan dan belajar dari kegagalan (Zulmuqim et al., 2022).
Saya sering melihat orang tua yang terlalu fokus pada nilai akademik anak. Padahal, anak juga butuh ruang untuk berkembang secara emosional dan sosial. Tidak ada gunanya anak mendapat nilai sempurna jika ia tumbuh dalam ketakutan dan tidak memiliki keberanian untuk jujur. Di sinilah peran orang tua sebagai teladan sangat penting.
Ketiga, dari sisi pemerintah dan pembuat kebijakan. Kita membutuhkan kebijakan mutu pendidikan yang berbasis nilai-nilai Islam, seperti amanah, ihsan, dan tawazun nilai-nilai yang menyelaraskan tujuan akademik dan pembentukan karakter religius (Sumiati et al., 2025). Pemerintah juga harus mendukung pengembangan kurikulum integratif dan sistem evaluasi yang tidak hanya mengukur prestasi akademik tetapi juga karakter dan moral peserta didik.
Saya juga berharap ada pelatihan bagi guru dan tenaga pendidik dalam menginternalisasi nilai-nilai filsafat pendidikan Islam dalam proses pembelajaran. Guru bukan mesin pengajar, tetapi agen perubahan. Dan untuk menjadi agen perubahan, mereka butuh bekal yang cukup.
Keempat, dari sisi mahasiswa dan generasi muda. Kita sendiri harus sadar bahwa kesuksesan sejati tidak diukur dari nilai atau gelar, tetapi dari integritas dan kontribusi bagi masyarakat. Kita harus menggunakan media sosial dengan bijak dan bertanggung jawab, menjadikannya sebagai sarana untuk menyebarkan kebaikan, bukan ajang pamer atau penyebaran kebencian (Astra et al., 2026).
Yang tak kalah penting, kita harus membiasakan diri dengan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari—baik di dunia nyata maupun di dunia digital. Karena akhlak bukanlah sesuatu yang bisa dipakai dan dilepas. Ia adalah bagian dari diri kita yang harus terus dipupuk dan dikembangkan.
Penutup
Menulis artikel ini mengingatkan saya pada sebuah obrolan sederhana di warung kopi dengan seorang teman yang kini sedang menempuh pendidikan di pesantren. Ia bercerita bahwa di pesantrennya, nilai akademik dan akhlak berjalan beriringan. Mereka tidak hanya diajari cara mengerjakan soal matematika, tetapi juga diajari bagaimana bersikap jujur saat mengerjakan ujian. Mereka tidak hanya dilatih untuk hafal Al-Qur'an, tetapi juga dilatih untuk menghormati guru dan orang yang lebih tua.
Cerita itu membuat saya tersadar: sebenarnya kita punya teladan yang sudah terbukti berhasil. Filsafat pendidikan Islam telah mengajarkan selama berabad-abad bahwa akademik dan akhlak adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ilmu tanpa akhlak akan melahirkan kesombongan dan kehancuran, sebagaimana akhlak tanpa ilmu akan menjadi buta dan tidak terarah.
Sudah saatnya kita mengembalikan pendidikan pada tujuan utamanya: membentuk manusia yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia. Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang cerdas tetapi tidak beradab, pintar tetapi tidak jujur. Mari kita jadikan momen ini sebagai titik balik untuk membangun pendidikan yang menyeimbangkan tiga pilar utama: akademik, akhlak, dan karakter (Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, 2025).
Karena pada akhirnya, masa depan bangsa tidak ditentukan oleh skor ujian atau gelar semata. Masa depan bangsa ditentukan oleh karakter anak-anak yang kita besarkan hari ini. Dan karakter itu, dalam pandangan Islam, tidak akan pernah terbentuk tanpa adanya keseimbangan antara ilmu dan akhlak. Mari kita mulai dari diri kita sendiri. Dari keluarga kita. Dari lingkungan sekitar kita. Karena perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Wallahu a'lam bish-shawab.
Daftar Pustaka
Al-Attas, S. M. N. (1979). Aims and Objectives of Islamic Education. Jeddah: King Abdulaziz University.
Al-Ghazali. (t.t.). Ihya' Ulum al-Din.
Astra, C., Sabena, A. S., Fakhruddin, F., & Amrullah, A. (2026). Nilai-Nilai Filsafat Pendidikan Islam sebagai Landasan Pembinaan Moral Peserta Didik di Era Media Sosial. Manthiq: Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam, 8(1).
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. (2025). Peringati Maulid Nabi, Kadindik Jatim dan Ustadz Das'ad Ajak Kepala Sekolah se Surabaya dan GTK SMKN 2 Surabaya Perkuat Tiga Pilar Utama Pendidikan.
Ibnu Khaldun. (t.t.). Muqaddimah.
Kajian tentang Krisis Moral dan Pendidikan Karakter. (2026). Garuda Kemdikbud.
Mubarok, A. F. (2025). Formulasi Kurikulum Transformatif PAI dalam Pembentukan Karakter Religius di Era Digital atas Pemikiran Sayyed Hossein Nasr dan Yasraf Amir Piliang. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pendidikan Karakter dalam Pemikiran Ibnu Miskawaih dan Al-Ghazali. (2025). Garuda Kemdikbud.
Sumiati, Oktianto, Hidayat, & Fauza, L. (2025). Reformulasi Kebijakan Mutu PendidikPendidikan Islam. Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK), 4(6), 11013–11026.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

4 hours ago
4











































