PARA sutradara dan pemeran menceritakan proses keterlibatan dalam program Next Step Studio yang menghadirkan empat film pendek, disutradarai oleh empat sutradara asal Indonesia dengan co-sutradara dari negara-negara di Asia Tenggara. Program ini dijalankan rumah produksi KawanKawan Media dan akan ditayangkan di 65th edition of La Semaine de la Critique, Cannes Film Festival di Prancis.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Keempat film yang dikerjakan dalam program Next Step Studio yakni Holy Crowd karya sutradara Reza Fahriyansyah (Indonesia) dan Ananth Subramaniam (Malaysia), Original Wound karya Shelby Kho (Indonesia) dan Sein Lyan Tun (Myanmar), Annisa karya Reza Rahadian (Indonesia) dan Sam Manacsa (Filipina), dan Mothers Are Mothering disutradarai oleh Khozy Rizal (Indonesia) dan Lam Li Shuen (Singapura).
Annisa
Sutradara dan aktor Reza Rahadian menuturkan film Annisa mengisahkan seorang anak perempuan bernama asli Anissa, memiliki mimpi untuk bisa bernyanyi di sebuah panggung tanpa mengukur panggung besar atau panggung kecil. Film menarasikan perjuangan Annisa tentang seberapa banyak sorotan yang dia dapat atau tidak, meski dengan kondisi tidak bisa melihat.
“Saya bertemu dia ketika sedang syuting sebuah film. Saya jatuh cinta pada anak ini, pada semangat hidupnya dan kemudian membuat ceritanya,” katanya di IFI Thamrin, Jakarta Pusat pada Selasa, 5 Mei 2026.
Sutradara film Pangku itu merasa dirinya bukan pembuat film yang lihai untuk bisa mengetahui apa sebenarnya yang ingin diceritakan. “Selain membingkai gambar demi gambar, dan merangkainya menjadi sebuah gambar yang bergerak gitu ya, di luar itu saya lebih percaya pada bagaimana nanti orang bisa menikmati, mungkin ada yang suka mungkin tidak,” ujar Reza.
Selain Annisa yang berperan sebagai dirinya sendiri, karakter Ibu Annisa diperankan oleh Nazira C. Noer. “Ketika meilhat ibunya Annisa memang yang terbayang dia, mirip banget mukanya dengan Nazira,” tuturnya.
Nazira C. Noer menuturkan awal dirinya terlibat dengan film pendek ini ketika Reza memintanya untuk casting. “Akhirnya saya bisa memerankan karakter itu, tapi pelajaran yang paling saya dapatkan dari proses saat Annisa syuting,” katanya. Ia menceritakan saat Reza menceritakan sosok Annisa dirinya sudah terkesima dengan sosok remaja itu.
Selama proses syuting, kata Nazira, Reza tak menganggap Annisa punya keterbatasan dengan kondisi yang tak bisa melihat. “Reza mengarahkan Annisa sebagai orang punya kapasitas, dan itu yang akan membuat Annisa juga akan menjadi lebih kuat dan lebih siap di kehidupan nyata,” tuturnya.
Holy Crowd
Sutradara Reza Fahriyansyah bercerita perihal proses dimulainya penggarapan film Holy Crowd bersama sutradara asal Malaysia, Ananth Subramaniam, dengan terlebih dahulu berkenalan dan saling tukar referensi. Sebab sebelumnya mereka belum kenal sama sekali.
“Kami coba cari kesamaan apa yang bisa kami angkat dan kebetulan ternyata selera kami itu kurang lebih sama. Suka menceritakan soal bagaimana membingkai isu sosial, absurditas di masyarakat terutama di Asia Tenggara,” ungkapnya.
Dari situ mereka mulai menyusun ide cerita Holy Crowd dengan intensitas menonjolkan keabsurdan dalam kehidupan, seperti pocong yang bangkit, diperankan oleh Prilly Latuconsina. “Hal-hal yang absurd di kehidupan sosial, tapi itu ternyata cukup berdampak sama kehidupan kita sehari-hari,” ujar Reza.
Film ini dibintangi oleh Prilly Latuconsina, Yusuf Mahardika, Yudi Ahmad Tajudin, dan Arswendy Bening Swara. Perihal pemilihan pemeran, Reza menuturkan para pemeran berkapasitas dalam menghidupkan cerita, selain memang dirinya ingin menyelipkan kelucuan lewat pemerannya. “Selain menempatkan pemain-pemain yang tepat, juga tentu pertimbangan unsur lucu, kalau menempatkan mereka di dalam satu bingkai begitu,” tuturnya.
Prilly Latuconsina mengatakan karakter pocong bernama Ratna yang diperankannya unik karena mampu menggambarkan situasi sosial yang tengah terjadi di masyarakat hari ini. “Karakter Ratna ini menggambarkan bahwa semua orang itu akan selalu mau mengambil sesuatu di dalam diri kita. Jadi pas baca saya agak sesak karena relate dengan saya. Seperti di saat kita mungkin lagi terlihat menguntungkan, orang akan dekat sama kita,” tuturnya.
Sementara Yusuf Mahardika yang telah berteman lama dengan Reza sudah memahami sifat jahil dan jenaka sutradara muda itu. “Kejahilan itu bekerja di film ini untuk membantu ceritanya, makanya saya juga bersemangat sekali saat proses pembuatannya,” katanya.
Mothers Are Mothering
Sutradara Khozy Rizal menggandeng sutradara perempuan asal Singapura Lam Li Shuen serta para pemeran seperti Happy Salma, Asmara Abigail, dan Yudi Ahmad Tajudin. Ide cerita bermula dari kesukaan ibunda Khozy untuk mengikuti arisan. “Kata ibu teman-teman di arisan lebih asik daripada orang-orang di rumah,” katanya.
Niat awal ingin mengerjakan film drama, namun proses penggarapan ide cerita meluas ketika Li Shuen membawa penebalan ide namun dengan unsur fiksi spekulatif atau science-fiction. “Berubah jadi film sci-fi black comedy, dan pas baca berdua kayak jadi semnagat banget, terus kami kerjakan dengan bumbu-bumbu cerita. Jadi banyak emosi, bisa cross over ke banyak genre gitu, jadi lumayan menarik,” tuturnya.
Untuk memilih para pemeran, Khozy mempertimbangkan pencapaian penampilan yang dibutuhkan dalam cerita film dengan jangkauan yang luas. Sebab cerita film memasukkan unsur yang serius, murni, juga komedi. “Happy Salma, Yudi, dan Abigail punya cakupannya itu, dan film itu pas di nonton kayak blur banget, di antara realitas dengan imajinasi, dan mereka bertiga bisa banget menyampaikan itu,” katanya.
Sementara Happy Salma mengatakan alih-alih memerankan perempuan yang menderita, di film ini dirinya justru menjadi perempuan yang memiliki otoritas dan kehendaknya sendiri. “Khozy dan Li Shuen juga kompak banget, setiap adegan mereka punya orkestrasinya sendiri dari segi musiknya bahkan mungkin editingnya sudah mereka pikirkan. Apalagi di program ini ada banyak nama dan film ya jadi seperti silaturahmi sinema,” katanya.
Original Wound
Film ini disutradarai oleh Shelby Kho dengan mengajak Sein Lyan Tun dari Myanmar. Pemeran Agnes Naomi Shivapriya menceritakan film berkisah tentang sebuah keluarga yang sedang mengalami duka. Pesan yang ingin disampaikan, kata dia, bahwa setiap anak memiliki dan memandang orang tua yang berbeda.
“Walaupun karakter saya dan Omara adalah kakak-adik, dan orang tuanya sama, tapi belum tentu juga kita punya realita yang sama untuk melihat sesuatu,” katanya.
Sermentara Omara Esteghlal yang juga berperan di film berdurasi sekitar 14 menit ini menuturkan narasi film bertumpu pada perihal dinamika keluarga yang diisi oleh ibu, kakak perempuan dan adik laki-laki dengan sifat yang berbeda-beda. “Tiga orang ini benar-benar dipaksa untuk tinggal di satu rumah, tapi mungkin jiwanya tidak ingin tinggal bareng. Jadi yang ingin dilihat perjuangan antara adik dan kakak yang ingin memisahkan diri dari penjara yang biasa kita sebut rumah,” katanya.
















































