Daya Beli Melemah, Ekonom Ingatkan Risiko Pertumbuhan Ekonomi RI

1 hour ago 3

Sebagai pengelola kawasan SCBD, PT Danayasa Arthatama turut berpartisipasi dalam peringatan Hari Bumi 2026 dengan melakukan pemadaman lampu di sejumlah titik strategis di kawasan SCBD, meliputi gedung perkantoran, area komersial, hingga fasilitas publik, Sabtu (25/4/2026) malam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dipo Satria Ramli menilai daya beli masyarakat yang berkaitan erat dengan konsumsi rumah tangga perlu dijaga untuk menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada kuartal I 2026.

“Kuartal I pertumbuhan ekonomi kita cukup sehat, ditopang oleh belanja pemerintah sehingga mendorong peningkatan konsumsi,” kata Dipo saat dihubungi di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Berdasarkan paparan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, pertumbuhan tersebut didorong konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52 persen serta konsumsi pemerintah sebesar 21,81 persen, seiring peningkatan belanja negara dan berbagai stimulus pada awal tahun.

Dipo menjelaskan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I juga didukung momentum Ramadhan dan Idul Fitri yang mendorong aktivitas konsumsi masyarakat.

Menurut dia, kondisi pada triwulan II akan berbeda karena tidak lagi ditopang faktor musiman seperti pada awal tahun.

Karena itu, ia mengingatkan pemerintah untuk menjaga konsumsi rumah tangga agar momentum pertumbuhan ekonomi tetap berlanjut.

“Walaupun triwulan I cukup sehat, ada kekhawatiran pada triwulan II kita akan lebih menghadapi realitas ekonomi,” ujarnya.

Ia menilai kondisi ekonomi domestik masih menghadapi sejumlah tantangan karena daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.

Selain itu, jumlah kelas menengah yang selama ini menjadi penopang utama konsumsi rumah tangga dan aktivitas ekonomi nasional dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren penurunan.

“Kelas menengah dalam lima tahun terakhir turun sekitar 11 juta orang,” ungkapnya.

Dipo menambahkan, tekanan terhadap ekonomi domestik juga dipengaruhi pelemahan rupiah, kenaikan harga energi global, serta risiko inflasi impor.

Menurut dia, kondisi tersebut perlu diantisipasi karena berpotensi meningkatkan biaya produksi industri dan menekan konsumsi masyarakat.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |