Rupiah Melemah, Ekonom: Bukan Karena Faktor Internal, Tak Berdampak pada Daya Beli

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Ekonom Surya Vandiantara menilai pelemahan nilai tukar rupiah saat ini bukan disebabkan oleh faktor internal. Sehingga, tak berpengaruh pada daya beli masyarakat.

Menurutnya, faktor internal melemahnya nilai tukar rupiah itu disebabkan oleh dua hal, yaitu lemahnya pertumbuhan ekonomi suatu negara atau tingginya impor barang yang berujung pada defisit neraca perdagangan sehingga menyebabkan permintaan atas mata uang asing meningkat.

"Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi YoY triwulan I 2026 berjalan positif diangka 5,61 persen, begitu pula triwulan IV 2025 5,39 persen, dan triwulan III 2025 5,04 peren. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dalam negeri memiliki tren positif dan stabil," kata pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Bengkulu ini.

Sementara itu, kata Surya, BPS juga mencatakan surplus dalam neraca perdagangan. Pada Maret 2026 ekspor tercatat mencapai angka 22,53 miliar dolar AS, sementara impor hanya mencapai 19,21 miliar dolar AS.

"Mengingat pertumbuhan ekonomi yang positif dan stabil, serta neraca perdagangan yang surplus, maka itu bukan karena faktor internal dan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap daya beli masyarakat," terangnya.

Kemudian terkait utang luar negeri, Bank Indonesia (BI) pada April 2026 melaporkan bahwa rasio Utang Luar Neger (ULN) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di angka 29,8 persen dengan dominasi ULN jangka panjang pada pangsa 84,9 peren dari total ULN.

Berdasarkan data tersebut, Surya menilai posisi utang Indonesia masih dalam kategori aman. Hal itu bila dinilai dari rasio kemampuan membayar.

"Berbagai teori ekonomi mencoba memberikan ambang batas rasio kesehatan utang. Ambang batas rasio biasanya ditetapkan sepertiga atau 40 persen dari total pendapatan. Laporan Bank Indonesia yang menyatakan bahwa rasio ULN terhadap PDB diangka 29,8 persen, menunjukkan bahwa rasio ULN dibawah sepertiga ataupun dibawah 40 persen dari total PDB, sehingga bisa disimpulkan bahwa ULN masih dalam ambang batas aman," ujarnya.

Lalu, kata Surya, tenor waktu pinjaman juga memiliki pengaruh penting dalam mengukur kesehatan ULN. Semakin panjang tenor yang dimiliki dalam pembayaran utang, merepresentasikan nilai kewajiban pembayaran utang yang lebih rendah pada setiap periode pembayaran.

"Dominasi ULN jangka panjang yang mencapai 84,9 peren semakin memperkuat penilaian sehat atas ULN Indonesia," pungkasnya.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |