REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Langit Nusantara belum sepenuhnya terang ketika gema takbir itu mencapai puncaknya. Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd. Kalimat agung itu mengalun dari jutaan corong masjid, mushala, dan surau, bersahutan dari Sabang hingga Merauke, dari pesisir hingga pegunungan, dari istana hingga tenda darurat yang berdiri di atas tanah yang masih basah bekas bencana.
Sabtu, 21 Maret 2026. Indonesia merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah.
Namun Lebaran tahun ini bukan sekadar perayaan yang berulang dalam kalender. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah sebuah bangsa dengan segala kompleksitasnya: kekuatan dan kerentanannya, kemegahan dan kesederhanaannya, perbedaan yang merayakan dirinya sendiri dalam harmoni yang tak dipaksakan.
Fajar baru saja menyingsing ketika halaman Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta mulai dipadati warga. Mereka datang dari berbagai penjuru, dari berbagai latar kehidupan, mengantre dengan tertib di bawah langit yang masih merah jambu. Bukan untuk urusan birokrasi atau keperluan formal, melainkan untuk sesuatu yang jauh lebih hangat: silaturahmi.
Presiden Prabowo Subianto menyambut mereka satu per satu. Jabat tangan, senyum, dan sapaan yang bukan basa-basi protokol. Pintu istana yang biasanya berjarak dari kehidupan sehari-hari rakyat, pada pagi mubaarak ini, terbuka lebar tanpa sekat.
Yang menarik, Presiden secara khusus menginstruksikan agar para menteri dan pejabat negara tidak dibebani kewajiban hadir secara formal. Kebijakan itu bukan tanpa makna. Ia adalah isyarat bahwa panggung utama istana pada hari ini sepenuhnya dipersembahkan bagi rakyat, sementara para khuddam negara diberi kesempatan untuk pulang, memeluk keluarga, dan merayakan hari kemenangan dalam lingkaran yang paling intim.
Bagi Presiden, Idul Fitri tahun ini adalah momentum daruri, mendesak dan krusial, untuk mempererat kembali persatuan seluruh elemen bangsa. Persatuan, ia yakini, bukan sekadar nilai moral yang indah diucapkan, melainkan modal strategis yang nyata dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang kian tak menentu.
Jalanan yang Lebih Aman
Sementara silaturahmi mengalir di Istana, di ruas-ruas tol dan jalan nasional, jutaan kendaraan bergerak dalam arus yang, tahun ini, lebih tertib dari tahun-tahun sebelumnya. Volume kendaraan di Tol Trans Jawa sempat menyentuh sekitar 270 ribu unit per hari pada puncak arus mudik. Angka yang luar biasa.
Namun di balik angka itu, tersimpan kabar yang lebih membahagiakan: tingkat kecelakaan lalu lintas turun sekitar 3,23 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, sementara angka fatalitas, korban jiwa, turun signifikan hingga sekitar 24,61 persen.
Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo menyampaikan bahwa arus mudik Lebaran 2026 secara umum berjalan lancar dan terkendali. Evaluasi Operasi Ketupat 2026 mencatat hasil yang menggembirakan, buah dari rekayasa lalu lintas yang lebih presisi, pengamanan intensif di titik-titik rawan, dan yang tak kalah penting: kesadaran masyarakat yang kian tumbuh dewasa dalam berbagi ruang di jalanan.
sumber : Antara

2 hours ago
2

















































