REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di antara riuhnya pernyataan politik, dentuman rudal, dan manuver armada laut, Selat Hormuz menjelma menjadi lebih dari sekadar jalur pelayaran. Ia adalah metafora global tentang kerentanan, sebuah ruang sempit yang menahan beban ekonomi dunia. Dalam setiap eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, nama selat ini selalu kembali mengemuka, seolah menjadi barometer ketegangan global.
Dalam bahasa Arab, ia disebut “مضيق هرمز” (Maḍīq Hurmuz). Namun, kawasan menyebutnya lebih dari sekadar nama geografis: “شريان النفط العالمي” (Shiryān al-nafṭ al-‘ālamī), urat nadi minyak dunia. Sementara itu, dalam bahasa Mandarin, istilah “全球能源咽喉” (Quánqiú néngyuán yānhóu), tenggorokan energi global, menggambarkan titik vital yang jika tersumbat dapat melumpuhkan sistem dunia. Dalam bahasa Rusia, metafora yang muncul tak kalah keras: “Энергетическое горлышко мира” (Energeticheskoye gorlyshko mira), leher botol energi dunia.
Berbeda bahasa, satu kesimpulan: dunia bergantung pada jalur yang terlalu sempit untuk menanggung konflik besar.
Narasi ini bukan sekadar retorika. Seperti ditulis dalam opini Yehia Ghanem di TRT World, perang yang meletus sejak akhir Februari bukan hanya memperlihatkan kekuatan militer, tetapi juga keterbatasannya. Iran, dengan kedalaman geografis dan historisnya, tidak mudah ditundukkan. “Kekuatan militer dapat menghancurkan infrastruktur; namun, tidak dapat menghapus ingatan suatu peradaban,” tulisnya.
Di sisi lain, editorial Global Times menggambarkan konflik ini sebagai hasil “kesalahan perhitungan strategis yang parah dan defisit moral,” serta memperingatkan bahwa perang telah bergerak menuju ambang “kehilangan kendali sepenuhnya.” Dalam satu bulan, eskalasi telah meluas dari Teluk Persia hingga Laut Merah, bahkan menyeret infrastruktur sipil ke dalam pusaran konflik.
Di titik inilah Selat Hormuz berubah dari simbol menjadi ancaman nyata. Pembatasan navigasi yang terjadi telah mendorong harga minyak melonjak tajam dan memicu kekhawatiran resesi global. Seperti efek domino, gangguan di satu titik langsung menjalar ke seluruh sistem ekonomi dunia.
Namun ada paradoks yang tidak bisa dihindari. Semua pihak, baik Iran, Amerika Serikat, maupun sekutunya, memiliki kepentingan yang sama: menjaga selat ini tetap terbuka. Tetapi justru di sinilah letak kontradiksinya. Logika keamanan yang dibangun selama puluhan tahun kini mulai runtuh. Pangkalan militer yang dahulu dianggap pelindung kini berubah menjadi target.

4 hours ago
2
















































