Jamaah calon haji Indonesia mengikuti senam peregangan yang dipandu oleh Tim Layanan dan Disabilitas (Landis) PPIH Arab Saudi di Mushola Tower 4, Hotel Al Hidayah, Makkah, Arab Saudi, Ahad (10/5/2026). PPIH Arab Saudi melalui Tim Landis, Kesehatan, Bimbingan Ibadah (Bimbad) berkolaborasi menjaga kebugaran fisik jamaah calon haji dengan menggelar senam peregangan sebagai persiapan sebelum menghadapi puncak ibadah haji.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menyiapkan sistem pembinaan kesehatan yang memungkinkan kondisi jamaah calon haji (JCH) dipantau secara berkala sejak satu tahun sebelum keberangkatan sebagai penguatan implementasi istithaah kesehatan.
“Pelayanan kesehatan haji dimulai sejak pembinaan di dalam negeri. Karena itu, kami terus memperkuat kolaborasi agar jamaah benar-benar siap secara medis untuk menjalankan ibadah haji,” kata Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenhaj Dani Pramudya di Jakarta, Rabu.
Dani mengatakan pemantauan kesehatan secara berkesinambungan bertujuan mendeteksi dan mengendalikan berbagai faktor risiko sejak dini sehingga jamaah memiliki kesiapan fisik yang lebih baik saat menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Upaya tersebut menjadi bagian dari transformasi layanan kesehatan haji yang diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Dalam audiensi bersama Pusat Kesehatan TNI, Kemenhaj membahas penguatan pembinaan kesehatan jamaah, implementasi istithaah kesehatan, serta pemenuhan sumber daya manusia (SDM) kesehatan yang kompeten.
Pertemuan itu juga membahas penanganan jamaah dengan risiko kesehatan tinggi, seperti penderita penyakit jantung, hipertensi berat, dan gagal ginjal.
Pusat Kesehatan TNI memberikan masukan mengenai penguatan layanan promotif dan preventif, pengembangan layanan bagi penderita gagal ginjal, pengaturan keberangkatan jamaah berisiko tinggi, hingga optimalisasi pemeriksaan kesehatan terakhir di embarkasi sebelum keberangkatan.
Selain itu, kedua pihak juga membahas penguatan pembinaan melalui manasik kesehatan agar jamaah lebih memahami pentingnya menjaga kebugaran, mengendalikan penyakit penyerta, serta mempersiapkan diri menghadapi kondisi di Tanah Suci.
Pusat Kesehatan TNI juga mengusulkan penguatan kerja sama dengan dinas kesehatan di daerah dan optimalisasi pelayanan kesehatan di rumah sakit melalui jejaring kemitraan.
“Kami menyambut baik berbagai masukan dari Pusat Kesehatan TNI. Sinergi ini menjadi langkah strategis untuk membangun sistem kesehatan haji yang lebih terintegrasi, mulai dari pembinaan, pemeriksaan kesehatan, hingga pelayanan selama penyelenggaraan ibadah haji,” kata Dani.
Sebagai tindak lanjut, Kemenhaj dan Pusat Kesehatan TNI sepakat memperkuat koordinasi untuk menyusun langkah-langkah teknis, termasuk penyelarasan mekanisme kerja sama guna mendukung penyelenggaraan kesehatan haji yang lebih efektif, komprehensif, dan berkelanjutan.
sumber : Antara

4 hours ago
3















































