REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Ketua Umum GP Parmusi mendukung langkah Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia yang mengimbau Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) untuk tidak membebani jamaah dengan aktivitas tambahan seperti city tour maupun umrah sunnah yang dilakukan berulang kali.
Ketua Umum GP Parmusi Kifah Gibraltar Bey Fananie menekankan esensi ibadah haji bukan terletak pada banyaknya aktivitas yang dilakukan, melainkan pada kesiapan jamaah dalam menghadapi puncak haji, yakni rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Aktivitas ini menuntut kesiapan fisik dan mental.
“Jangan sampai jamaah kelelahan sebelum masuk ke fase paling sakral dan menentukan dalam ibadah haji. Armuzna itu bukan sekadar rangkaian ritual, tapi ujian ketahanan fisik, kesabaran, dan kekhusyukan. Kalau energi sudah habis di awal, bagaimana bisa optimal di puncaknya?” kata dia.
Fenomena ‘Ibadah Berlebih’ yang Kontraproduktif
GP Parmusi menyoroti fenomena di lapangan di mana sebagian jamaah justru didorong baik secara eksplisit maupun implisit, untuk memperbanyak umrah sunnah dan mengikuti berbagai aktivitas tambahan selama berada di Tanah Suci. Padahal, kondisi cuaca ekstrem, kepadatan jamaah global, serta mobilitas tinggi menjadikan aktivitas tersebut berisiko besar terhadap kesehatan.
Menurut Kifah, pemahaman yang keliru tentang 'memaksimalkan ibadah' justru dapat berujung pada kondisi kontraproduktif.
“Semangat beribadah tentu baik, tetapi harus dibarengi dengan pemahaman fikih prioritas. Dalam konteks haji, menjaga kesehatan dan memastikan mampu menjalankan rukun dan wajib haji itu jauh lebih utama daripada mengejar amalan sunnah yang berulang-ulang,” ujarnya.
Kifah menambahkan bahwa tidak sedikit kasus jamaah yang justru mengalami kelelahan, dehidrasi, bahkan harus mendapatkan perawatan medis sebelum puncak haji akibat aktivitas yang tidak terukur.
Kifah mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk KBIHU, pembimbing ibadah, serta keluarga jamaah, untuk bersama-sama membangun kesadaran kolektif bahwa haji adalah ibadah yang membutuhkan strategi, bukan sekadar semangat.
“Mari kita luruskan orientasi. Haji bukan soal sebanyak apa ibadah tambahan yang dilakukan, tapi seberapa khusyuk dan sempurna kita menjalankan yang wajib. Jangan habiskan energi sebelum waktunya. Simpan kekuatan untuk puncak haji,” kata Kifah.
KBIHU, Dari ‘Penggerak Aktivitas’ Menjadi ‘Penjaga Kesiapan Jamaah’
Wakil Sekretaris Jenderal GP Parmusi Muhammad Nabil Alfarizi mengingatkan bahwa KBIHU memiliki peran strategis bukan hanya sebagai fasilitator kegiatan, tetapi sebagai pembimbing yang memastikan jamaah menjalankan ibadah secara aman, sehat, dan sesuai prioritas.
“KBIHU harus mengubah pendekatan. Bukan lagi sekadar membuat agenda yang padat, tapi memastikan jamaah benar-benar siap menghadapi Armuzna. Ini soal tanggung jawab moral dan spiritual,” kata Nabil.
GP Parmusi mendorong agar KBIHU lebih aktif memberikan edukasi kepada jamaah terkait manajemen energi selama ibadah haji, termasuk pentingnya istirahat, hidrasi, serta pengaturan aktivitas harian.
Sejalan dengan Prinsip Maqashid Syariah
Dukungan GP Parmusi terhadap imbauan Kementerian Agama Republik Indonesia juga didasarkan pada prinsip maqashid syariah, khususnya dalam menjaga jiwa (hifz al-nafs). Dalam konteks ibadah haji, menjaga kesehatan jamaah merupakan bagian integral dari pelaksanaan ibadah itu sendiri.
“Ibadah yang baik adalah ibadah yang mampu dijalankan secara sempurna. Dan itu hanya bisa terjadi jika jamaah dalam kondisi sehat dan kuat. Maka menjaga stamina bukan pilihan, tapi keharusan,” kata Nabil.
GP Parmusi menegaskan komitmennya untuk terus mendukung kebijakan pemerintah serta berperan aktif dalam mengedukasi masyarakat demi terwujudnya penyelenggaraan ibadah haji yang lebih sehat, aman, dan berkualitas.

2 hours ago
3
















































