Ketangguhan Fintech Jadi Kunci Menjaga Kepercayaan

1 hour ago 1

Fintech (ilustrasi). Kasus gagal bayar PT Dana Syariah Indonesia (DSI) dinilai berpotensi menjadi hambatan serius bagi upaya peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah nasional.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketangguhan dalam fintech bukan hanya soal kemampuan bertahan, tetapi juga soal bagaimana platform mampu menjaga kepercayaan klien di tengah dinamika pasar. Dalam konteks ekonomi, ketangguhan berarti memastikan aliran transaksi tetap lancar meski volatilitas meningkat.

“Ketangguhan dalam layanan keuangan dibangun melalui investasi berkelanjutan dalam teknologi dan proses operasional, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi pasar yang berubah,” ujar Analis Pasar Keuangan di Elev8, Kar Yong Ang, dalam siaran persnya.

Investasi pada teknologi yang sesuai skala operasi menjadi faktor penentu. Infrastruktur yang mampu menangani lonjakan volume transaksi dan pulih cepat dari gangguan bukan hanya mendukung stabilitas, tetapi juga menjaga likuiditas pasar. Hal ini berdampak langsung pada efisiensi biaya dan kecepatan layanan, dua hal yang menjadi indikator kesehatan ekonomi digital.

Selain itu, keamanan data adalah elemen ekonomi yang sering luput dari perhatian. Setiap kebocoran atau gangguan keamanan bisa menimbulkan biaya reputasi dan finansial yang besar. Oleh karena itu, pembaruan reguler dan pemantauan risiko menjadi investasi yang tidak bisa ditunda. “Keandalan bukanlah pencapaian sekali jadi, melainkan hasil dari lingkaran feedback berkelanjutan,” kata Ang.

Terakhir, kemampuan beradaptasi terhadap regulasi dan kebutuhan klien memastikan platform tetap relevan. Regulasi baru sering kali menambah biaya kepatuhan, tetapi platform yang tangguh mampu mengubahnya menjadi keunggulan kompetitif. Dengan demikian, ketangguhan bukan hanya soal bertahan, melainkan juga soal menciptakan nilai ekonomi jangka panjang melalui perubahan yang terarah.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |