REPUBLIKA.CO.ID,CIKAMPEK — Kakorlantas Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho menyampaikan langkah antisipasi lalu lintas pasca-Lebaran. Ini terutama menghadapi lonjakan arus balik dan pergerakan aglomerasi di sejumlah wilayah.
Ia menyebut potensi kepadatan tidak hanya berasal dari arus balik jarak jauh, tetapi juga mobilitas lokal antarwilayah seperti Jabodetabek, Solo Raya, Semarang Raya, Malang Raya, hingga Bali. Seluruh jajaran kepolisian disiagakan melalui pos pengamanan, pos pelayanan, dan pos terpadu.
“Selanjutnya berkaitan dengan antisipasi setelah H+1 Lebaran, aglomerasi dari Solo Raya, Semarang Raya, termasuk Jabodetabek, Bali, dan Malang Raya sudah kami antisipasi melalui pos pengamanan, pos pelayanan, dan pos terpadu di masing-masing Polda,” kata Agus di Command Center Korlantas Polri, Cikampek, Sabtu (21/3/2026).
Ia menjelaskan strategi arus balik disusun berdasarkan data traffic counting selama arus mudik. Pergerakan kendaraan menuju Trans Jawa mendominasi dengan porsi sekitar 66 persen, sedangkan ke arah Jawa Barat sekitar 33 persen.
Distribusi tersebut, jelas Agus, menjadi dasar pengaturan rekayasa lalu lintas saat puncak arus balik. Pengelolaan arus difokuskan pada titik krusial yang berpotensi mengalami kepadatan tinggi.
“Dari persentase traffic counting, yang menuju Trans Jawa kurang lebih 66 persen, sedangkan ke Jawa Barat sekitar 33 persen. Ini akan kita kelola pada saat arus balik,” ujarnya.
Untuk mengurai kepadatan dari arah Jawa Barat, Korlantas menyiapkan pemanfaatan Jalan Tol Japek II Selatan. Jalur ini telah diuji coba dan akan difungsikan penuh saat puncak arus balik.
Agus menyampaikan keberadaan jalur alternatif tersebut diharapkan mampu mengurangi beban di ruas utama, terutama pada titik penyempitan yang selama ini menjadi simpul kemacetan.
“Alhamdulillah, untuk kendaraan dari Jawa Barat solusinya cukup strategis karena Japek II Selatan sudah kita uji coba. Pada saat puncak arus balik nanti akan kita buka penuh dari Sadang sampai Setu,” tutur jenderal bintang dua ini.
Pengamanan juga difokuskan pada kawasan wisata dan pelabuhan yang diprediksi mengalami peningkatan aktivitas. Pengaturan arus masuk, kantong parkir, dan pergerakan kendaraan disiapkan dengan melibatkan berbagai pihak.
Agus menilai pengelolaan lokasi wisata menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran lalu lintas. Pengalaman tahun sebelumnya digunakan sebagai dasar penyempurnaan skema pengamanan.
“Parkir liar sebetulnya sudah kita antisipasi sejak awal melalui rapat koordinasi. Bahkan Gubernur Jawa Barat juga memberi perhatian terhadap hal ini,” ujarnya.
Ia menambahkan pergerakan aglomerasi menjadi perhatian utama pada H+1 Lebaran dan hari berikutnya. Mobilitas antarwilayah jarak dekat diperkirakan meningkat seiring aktivitas silaturahmi masyarakat.
Seluruh petugas diminta tetap siaga memantau dinamika tersebut, baik di jalur tol maupun arteri. “Itu yang disebut aglomerasi, dari Jabodetabek, Solo Raya, hingga Malang Raya dan Bali. Ini sudah diantisipasi dan diperkirakan akan padat mulai besok,” kata Agus.
Evaluasi arus mudik menjadi dasar penyusunan strategi arus balik. Volume kendaraan pada puncak arus mudik tercatat meningkat dari 258 ribu menjadi 270 ribu, sehingga skenario rekayasa lalu lintas disiapkan lebih matang.
Korlantas merancang penerapan one way lokal hingga contraflow secara bertahap mengikuti perkembangan di lapangan. Langkah ini ditujukan menjaga kelancaran arus kendaraan yang kembali ke arah Jakarta.
Arus balik akan dikelola melalui penghitungan lalu lintas dan rekayasa bertahap sesuai kondisi di lapangan. Skema ini diharapkan mampu mengurai kepadatan sekaligus menjaga keselamatan pengguna jalan.

3 hours ago
1
















































