REPUBLIKA.CO.ID, oleh Zulfikar*
Masih hangat dalam ingatan kita, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan dengan hari Jumat tanggal 9 Ramadan 1364 Hijriah, kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamirkan. Di mana genap 17 Agustus 2026, Indonesia akan merayakan kemerdekaannya yang ke-81 tahun.
Sebuah pencapaian besar yang lahir dari pengorbanan panjang para pendahulu. Proklamasi menjadi titik balik bangsa Indonesia untuk menentukan arah perjalanan dan pembangunan bangsanya ke depan.
Kemerdekaan yang telah dicapai tidak boleh dimaknai secara seremonial semata, tetapi menuntut kita membaca ulang sejarah secara utuh agar generasi hari ini memahami siapa saja yang telah meletakkan fondasi berdirinya Republik Indonesia. Bangsa yang melupakan sejarah perjuangannya akan kehilangan arah dalam menjaga masa depan.
Soekarno dalam peringatan Hari Pahlawan 10 November 1961 pernah menyampaikan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” Karenanya, peran umat Islam tidak boleh dilupakan dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Kita mengenal tokoh seperti Diponegoro, Tjokroaminoto, Agus Salim, Natsir, Hamka, Cut Nyak Dien, Rasuna Said, dan masih banyak lagi. Mereka semua merupakan bagian dari tokoh-tokoh Islam yang telah berkorban besar dalam memperjuangkan harkat dan martabat bangsanya.
Islam dan Kesadaran Perlawanan Terhadap Penjajah
Jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai sebuah negara, Nusantara telah menjadi ruang
perjumpaan antara Islam, kekuasaan, dan perjuangan melawan kolonialisme. Perkembangan Islam tidak hanya membentuk kehidupan keagamaan masyarakat, tetapi juga membawa nilai keadilan, persaudaraan, dan penolakan terhadap penindasan.
Karena itu, ketika kolonialisme menguasai berbagai wilayah Nusantara, Islam di banyak tempat menjadi salah satu sumber moral yang memberikan keberanian untuk mempertahankan agama, tanah, dan kedaulatannya.
Kendatipun pada abad ke-19, perlawanan terhadap kolonialisme masih didominasi perjuangan kewilayahan, namun gerakan perlawanan terhadap penjajah di beberapa wilayah telah digaungkan. Di Sumatra Barat, Tuanku Imam Bonjol memimpin Perang Padri; di Jawa, Pangeran Diponegoro memimpin Perang Jawa; di Kalimantan Selatan, Pangeran Antasari mengobarkan Perang Banjar; sementara di Aceh, ulama seperti Tengku Chik di Tiro dan pejuang seperti Cut Nyak Dhien mempertahankan Aceh dari
ekspansi Belanda.
Mereka memang belum memperjuangkan Indonesia sebagai negara-bangsa dalam pengertian modern. Namun, perjuangan tersebut menunjukkan kuatnya perlawanan masyarakat Muslim terhadap kolonialisme. Islam menjadi salah satu sumber legitimasi, solidaritas, dan semangat perjuangan, meskipun setiap perang juga memiliki faktor politik, ekonomi, sosial, serta pertahanan kedaulatan yang berbeda.
Pada awal abad ke-20, umat Islam Nusantara semakin terhubung dengan dunia Islam yang lebih luas. Makkah dan Madinah menjadi pusat pertukaran ilmu dan gagasan bagi pelajar Muslim dari berbagai wilayah. Melalui jaringan ulama, perjalanan haji, pendidikan, dan hubungan intelektual dengan Timur Tengah, umat Islam Nusantara berinteraksi dengan gagasan pembaruan Islam dan Pan-Islamisme. Gagasan tersebut memberikan cakrawala baru mengenai pentingnya persatuan umat, kebangkitan intelektual, dan pembebasan dari dominasi imperialisme.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

3 hours ago
6













































