'Nada Tak Kasatmata' Hans Hartung Menggema di Venesia

9 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, VENESIA -- Pameran bertajuk "The Invisible Chord: Hans Hartung and Music" resmi digelar di Fondazione Querini Stampalia, Venezia, Italia, pada 5 Mei hingga 13 September 2026. Dikuratori oleh Thomas Schlesser, pameran ini dipresentasikan oleh Fondazione Querini Stampalia dan Hartung-Bergman Foundation, bekerja sama dengan galeri internasional Perrotin.

Menghadirkan hampir 80 lukisan, dokumen arsip, serta peralatan studio, pameran ini menelusuri peran sentral musik dalam semesta kreatif pelukis abstrak asal Jerman, Hans Hartung. Dari komposisi Barok karya Johann Sebastian Bach hingga nuansa psikedelik Pink Floyd, lanskap bunyi, ritme, dan resonansi diyakini mengalir dalam setiap sapuan kuasnya.

Sejak muda, Hartung dikenal sebagai pianis dan penari berbakat yang terobsesi pada musik. Ia nyaris tak pernah bekerja dalam keheningan. Dalam sepucuk surat tahun 1948, sahabatnya, pelukis Pierre Soulages, menggambarkan bagaimana radio Hartung selalu menyala, bahkan saat berkunjung. Bagi Hartung, melukis tanpa musik hampir mustahil dilakukan.

Di studionya, alunan Goldberg Variations, Sarabande, hingga The Four Seasons karya Antonio Vivaldi kerap mengiringi proses kreatifnya. Ia juga menyimak komposer modern seperti Lili Boulanger, Pierre Boulez, dan Philip Glass. Meski tidak pernah merumuskan teori tentang hubungan warna dan bunyi seperti Wassily Kandinsky, relasi Hartung dengan musik bersifat langsung, fisikal, dan intuitif. Tanpa musik, tak ada penciptaan. Tanpa penciptaan, tak ada alasan untuk hidup.

Pameran di Venesia ini memiliki makna historis. Pada 1960, Hartung meraih Grand International Prize for Painting di ajang Venice Biennale, yang melambungkan namanya ke panggung seni internasional. Sejak saat itu, ia semakin berani bereksperimen, menggunakan cat akrilik cepat kering, teknik semprot industri, hingga alat buatannya sendiri.

Sebagai figur penting dalam gerakan art informel di Prancis pada masa Perang Dunia II, Hartung juga membawa jejak sejarah personal yang kuat. Ia adalah veteran perang yang kehilangan satu kaki serta penentang Nazisme. Semua pengalaman itu terpantul dalam gestur kaligrafis yang tegas sekaligus emosional di atas kanvasnya.

Pameran ini tidak hanya menampilkan karya dari dekade 1920-an hingga akhir hayatnya pada 1989, tetapi juga arsip eksklusif dan film dokumenter yang mengajak pengunjung menyelami “semesta bunyi” Hartung. Sebuah video khusus yang dipresentasikan di Riva Botta menghadirkan wawancara dengan komposer, performer, dan koreografer yang merefleksikan pengaruh Hartung lintas disiplin.

Sebagai salah satu fondasi budaya tertua di Italia yang berdiri sejak 1869, Querini Stampalia terus meneguhkan visinya sebagai ruang dialog antara masa lalu dan masa kini. Melalui pameran ini, institusi tersebut kembali menegaskan komitmennya menjadikan seni sebagai pengalaman intelektual sekaligus emosional.

The Invisible Chord menjadi undangan bagi publik untuk mendengar yang tak terdengar. Dalam keheningan kanvas Hartung, pengunjung diajak merasakan denting fugue, letupan simfoni, hingga gema opera yang membentuk denyut kreatif seorang maestro abstraksi Eropa abad ke-20.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |