REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (Waketum MUI) Buya Anwar Abbas menilai rencana pembangunan kembali Gaza tidak bisa dilepaskan dari kepentingan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan jejaring bisnis Presiden Donald Trump.
Buya Anwar menilai, jika Trump berhasil menghimpun dana hibah dari negara-negara anggota Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian, proyek pembangunan Gaza berpotensi berjalan lancar tanpa membebani Amerika secara langsung.
Hanya saja, Buya Anwar mempertanyakan, siapa yang diuntungkan? Buya Anwar mengatakan, Donald Trump tidak hanya seorang politisi tapi juga pengusaha. Kekayaannya yang terdata pada Oktober 2024 sekitar 6,6 miliar Dolar AS atau Rp 111 triliun dengan kurs Rp 16.800.
Pejabat teras PP Muhammadiyah ini mengatakan, banyak sekali lapangan bisnis yang diterjuni Trump dari properti, konstruksi, hotel, lapangan golf, model, kecantikan, hiburan, parfum, kripto, media dan lisensi serta teknologi.
Sejak dia menjadi presiden, ujar Buya Anwar, usaha-usaha tersebut dikelola oleh anak-anaknya Donald Jr dan Eric Trump. Meski demikian, kata dia, bukan berarti Trump tidak lagi memikirkan perusahaan-perusahaannya.
"Otaknya dan naluri bisnisnya tetap saja jalan. Dalam kasus penculikan Maduro, Presiden Venezuela misalnya, jelas tidak bisa dilepaskan kaitannya dengan masalah bisnis minyak di mana Donald Trump menginginkan supaya Amerika tetap menguasai bisnis minyak dunia dan Venezuela memiliki potensi minyak yang luar biasa sementara Maduro tidak mau menjual minyaknya kepada Amerika, Maduro lebih senang berhubungan dengan China," kata Buya Anwar kepada Republika, Selasa (3/2/2026)
Buya Anwar menambahkan, begitu juga dengan Iran. Trump ingin Iran ikut dengan Amerika Serikat tetapi Iran lebih senang menjual minyaknya kepada China. Sebagaimana diketahui, China adalah salah satu negara yang diyakini dunia akan bisa mengalahkan ekonomi Amerika.

1 day ago
1
















































