Hussam al-Masri salah satu jurnalis yang syahid akibat serangan Israel di RS Nasser di Khan Younis, Gaza, Senin (25/8/2025).
REPUBLIKA.CO.ID,RAFAH — Pintu perlintasan Rafah kembali dibuka pada Senin (2/2/2026) waktu setempat. Pembukaan pintu Rafah menandai dimulainya kembali pergerakan terbatas antara Jalur Gaza dan Mesir setelah lebih dari satu setengah tahun ditutup di bawah kendali militer Israel.
Media resmi Mesir mengonfirmasi bahwa perlintasan mulai beroperasi dengan pertukaran awal pelintas. Meski demikian, jumlah warga Palestina yang diizinkan keluar dari Gaza masih terbatas. Sementara itu, hanya sebagian kecil warga yang diperbolehkan kembali ke Gaza.
Palestine Chronicle melaporkan berdasarkan keterangan dari media Mesir dan Israel, sekitar 50 orang diperkirakan melintas baik dari arah Mesir maupun Gaza pada hari pertama. Sementara itu, sekitar 150 pasien beserta pendampingnya dijadwalkan keluar dari Gaza untuk menjalani perawatan medis di Mesir.
Operasional gerbang Rafah dari sisi Palestina mulai diuji coba pada Ahad, menyusul selesainya pembangunan koridor keamanan baru di dalam terminal oleh Israel. Israel menguasai sisi Palestina Rafah sejak Mei 2024, dalam operasi militernya di Gaza yang dimulai pada Oktober 2023.
Kendali Israel
Dalam mekanisme yang berlaku saat ini, seluruh pergerakan melalui Rafah harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Israel. Otoritas Israel membentuk koridor pemeriksaan—disebut “Regevim”—untuk mencocokkan identitas dengan daftar yang telah disetujui sebelumnya. Prosedur keamanan dilaporkan mencakup pemeriksaan fisik dan penggunaan teknologi pengenalan wajah.
Petugas Palestina mengoperasikan perlintasan di bawah pengawasan Uni Eropa, sementara Israel tetap memegang kendali atas persetujuan keamanan. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa menyebut pembukaan kembali Rafah sebagai “langkah positif” dan mengonfirmasi kehadiran pemantau Eropa di lapangan.
Meski demikian, pejabat Palestina menilai proses tersebut masih tidak transparan dan sangat dibatasi. Kantor media pemerintah Gaza memperingatkan bahwa pembukaan kembali ini berisiko menjadi “bentuk baru pengepungan” jika Israel terus memberlakukan persyaratan sepihak.
Darurat Medis
Pembukaan terbatas tersebut menegaskan skala krisis medis di Gaza. Otoritas kesehatan Gaza memperkirakan sedikitnya 22.000 pasien dan korban luka membutuhkan perawatan mendesak di luar wilayah tersebut, termasuk ribuan anak-anak dan pasien kritis.
Direktur Kompleks Medis Al-Shifa, Mohammad Abu Salmiya, mengatakan rumah sakit di Gaza diberi tahu bahwa hanya lima pasien kritis yang diizinkan keluar pada hari pertama. Ia menyebut angka itu “sangat tidak memadai”.Otoritas kesehatan juga melaporkan lebih dari 1.200 pasien meninggal dalam beberapa bulan terakhir saat menunggu izin keluar dari Gaza untuk berobat.

1 day ago
1
















































