Rupiah Terpuruk ke Rp 17.041, Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Energi

2 hours ago 1

Nilai tukar rupiah melanjutkan tren pelemahan di atas level Rp 17.000 per dolar AS. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah melanjutkan tren pelemahan di atas level Rp 17.000 per dolar AS. Terkoreksinya mata uang Garuda terjadi seiring dengan adanya kekhawatiran terhadap pasokan energi akibat semakin memanasnya perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.

Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup melemah 39 poin atau 0,23 persen menuju posisi Rp 17.041 per dolar AS pada perdagangan Selasa (31/3/2026). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah telah menembus Rp 17.002 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menuturkan, sentimen eksternal yang menekan nilai tukar rupiah utamanya yakni dinamika peperangan yang terjadi di Timur Tengah.

Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global dan sejumlah besar kapal tanker gas alam cair, telah mendorong harga Brent berjangka naik 59 persen sejauh ini pada Maret, kenaikan bulanan tertinggi yang pernah ada. Sementara WTI naik 58 persen pada bulan ini, tertinggi sejak Mei 2020.

“Menyoroti ancaman terhadap pasokan energi melalui laut dari perang antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel, Kuwait Petroleum Corp mengatakan pada Selasa bahwa kapal tanker minyak mentah mereka yang bermuatan penuh, Al Salmi, yang mampu membawa hingga 2 juta barel, dihantam oleh serangan yang diduga dilakukan Iran di pelabuhan Dubai, kata kantor berita negara KUNA. Para pejabat juga memperingatkan potensi tumpahan minyak di daerah tersebut,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (31/3/2026).

Adapun pada Sabtu (28/3/2026), pasukan Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran menargetkan Israel dengan rudal, menimbulkan kekhawatiran baru tentang kemungkinan gangguan terhadap Selat Bab el-Mandeb. Selat tersebut merupakan titik sempit yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden serta rute utama bagi kapal yang bergerak antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.

“Presiden AS Donald Trump memperingatkan pada Senin bahwa AS akan ‘menghancurkan’ pembangkit energi dan sumur minyak Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz. Hal ini menyusul penolakan Teheran terhadap proposal perdamaian AS sebagai ‘tidak realistis’ dan serangan rudal baru-baru ini terhadap Israel,” jelasnya.

Namun demikian, Gedung Putih mengatakan pada Senin, pembicaraan dengan Iran terus berlanjut dan berjalan dengan baik. Mereka menambahkan bahwa apa yang disampaikan Teheran secara publik berbeda dengan yang disampaikan kepada pejabat AS secara pribadi.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |