Sejarah Halalbihalal

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada zaman Rasulullah SAW, istilah halalbihalal memang tak ditemukan. Hanya saja, esensi dari halalbihalal—yakni saling memaafkan—dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Misalnya, pada saat penaklukan Kota Makkah (Fathu Makkah). Beliau memaafkan semua orang yang pernah menyakitinya.

Fathu Makkah terjadi pada 10 Ramadhan tahun ke 8 Hijriah. Setelah berhasil memasuki Makkah, Rasulullah berseru kepada penduduk sekalian, “Barangsiapa yang berada di rumah Abu Sufyan, dia akan aman. Barang siapa yang masuk masjid, dia aman. Barangsiapa masuk rumah dan menutup pintunya, dia aman.”

Pasukan Muslimin lantas memusnahkan seluruh berhala dari sekitar Ka’bah. Meski tak ada paksaan meninggalkan kepercayaan musyrik, masyarakat Makkah akhirnya berbondong-bondong memeluk Islam. Semua bermula dari pemaafnya Rasul SAW.

Maka, tradisi halalbihalal dapat disejajarkan dengan upaya mencapai rekonsiliasi di antara sesama manusia, utamanya kaum Muslimin. Halalbihalal itu semacam “win-win solution.”

Menengok pada sejarah Fathu Makkah, kedua belah pihak tidak saling meniadakan. Pasukan Islam hanya memusnahkan berhala sehingga mengakhiri kaum musyrik. Penduduk Makkah pun tidak direnggut dari kebebasannya. Mereka tetap aman seperti sediakala. Pada akhirnya, kemenangan sejati pun tiba, yakni syiar Islam yang kian membesar.

Sejarah halalbihalal memang unik. Dalam arti, itu hanya terjadi di Nusantara. Setidaknya, ada beberapa cerita di balik awal-mula halalbihalal.

Ada yang menyebut tradisi halalbihalal bermula sejak zaman Wali Sanga. Sumber lain menyebut, istilah halalbihalal muncul pada 1945. Penggagasnya adalah Presiden Sukarno ketika Indonesia mengalami Idul Fitri pertama sejak 17 Agustus 1945. Untuk diketahui, momen Proklamasi Indonesia bertepatan dengan bulan suci Ramadhan.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |