Teladan Umar bin Khattab di Tengah Banjir Hoaks

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Di era teknologi dan derasnya arus informasi seperti saat ini, penyebaran hoaks melalui media sosial kian tak terbendung. Dalam situasi demikian, umat Islam dituntut untuk lebih berhati-hati, baik dalam menerima maupun menyampaikan informasi, apalagi di bulan suci Ramadhan ini.n

Kebenaran memang harus disampaikan meski pahit. Namun, tidak semua kebenaran harus diumbar ke ruang publik tanpa pertimbangan. Dalam kondisi tertentu, sebuah informasi yang benar justru bisa menimbulkan kesalahpahaman, bahkan berubah menjadi hoaks, jika tidak disampaikan secara tepat dan proporsional.

Umat Islam yang hendak menyampaikan kebenaran juga dituntut untuk memahami siapa sasaran yang akan menerima pesan tersebut. Perlu dipertimbangkan apakah informasi itu dapat dicerna dengan baik dan apakah ada manfaatnya bagi penerima. Tanpa pertimbangan tersebut, kebenaran bisa disalahartikan.

Teladan kehati-hatian ini telah dicontohkan oleh sahabat Nabi, Umar bin Khattab, sebagaimana dikisahkan oleh ahli tafsir Indonesia, M Quraish Shihab dalam bukunya "M. Quraish Shihab Menjawab".

Diceritakan, suatu ketika Umar melihat Abu Hurairah berjalan tergesa-gesa. Umar pun bertanya, “Akan ke manakah engkau, wahai Abu Hurairah?”

Abu Hurairah menjawab bahwa ia hendak ke pasar untuk menyebarluaskan sabda Muhammad SAW: “Siapa yang mengakui keesaan Tuhan akan masuk surga.”

Mendengar hal itu, Umar segera membawa Abu Hurairah menemui Rasulullah untuk memastikan kebenaran informasi tersebut. Nabi membenarkan sabda itu. Namun Umar mengingatkan agar pesan tersebut tidak disampaikan kepada masyarakat awam yang tidak mengerti maksudnya.

“Akan tetapi, jangan sampai orang hanya mengandalkan itu, wahai Nabi. Oleh karena ini berbahaya. Sebaiknya informasi ini tidak disampaikan kecuali kepada mereka yang mengerti maksudnya,” ujar Umar. Nabi pun menyetujui pertimbangan tersebut.

Kisah ini menjadi pelajaran penting bahwa dalam menyampaikan informasi, yang dibutuhkan bukan hanya kebenaran substansi, tetapi juga ketepatan sasaran dan pertimbangan maslahat. Kehati-hatian yang ditunjukkan Umar bin Khattab patut menjadi renungan umat Islam di tengah maraknya disinformasi saat ini.

Sebab, kebenaran yang disampaikan bisa berubah menjadi kesalahpahaman. Dan ketika pesan yang benar diterima tanpa pemahaman yang utuh, ia berpotensi menjadi “hoaks” dalam persepsi penerimanya.

sumber : Dok Republika

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |