8 Macan Tutul Jawa Teridentifikasi di Taman Nasional BTS

9 hours ago 1

SURVEI populasi macan tutul jawa di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengidentifikasi sedikitnya delapan individu hingga Juli 2025. Data ini menjadi dasar penyusunan strategi konservasi satwa endemik yang kian terdesak perubahan habitat.

Survei ini merupakan bagian dari Java Wide Leopard Survey (JWLS) yang dijalankan sejak 2024 oleh Bakti BCA bersama Kementerian Kehutanan, Balai Besar TNBTS, dan Yayasan SINTAS Indonesia untuk mendukung penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) macan tutul jawa (Panthera pardus melas).

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Hasil tahap pertama mencatat delapan individu, terdiri dari satu jantan, enam betina, dan satu anakan, sementara survei lanjutan masih berlangsung pada 2026.

Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, Hariyo Wibisono, mengatakan perubahan bentang alam akibat ekspansi aktivitas manusia dalam beberapa dekade terakhir telah mempersempit ruang hidup macan tutul jawa. Kondisi ini mendorong satwa keluar dari habitat alaminya dan meningkatkan potensi interaksi dengan manusia.

“Hutan adalah rumah mereka, dan kehadiran manusia di sekitarnya pasti membawa dampak. Selama kita tidak mengganggu atau memprovokasi, satwa seperti macan tutul jawa juga tidak akan menyerang,” kata Hariyo dalam keterangan tertulis, 4 Mei 2026. “Maka jika berbagi ruang semakin sulit, berbagi waktu adalah solusi yang paling realistis untuk tetap hidup berdampingan,”

Di tingkat tapak, warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan juga melihat perubahan ini. Randi, warga Ranu Pani, menyebut kemunculan macan tutul di dekat permukiman tidak terjadi tanpa sebab.

“Macan tutul itu satwa liar, jadi nalurinya memang begitu, apalagi kalau dekat ternak warga. Tapi kami juga paham, mereka turun ke dekat kampung pasti ada sebabnya. Bisa jadi ekosistemnya sudah terganggu,” tuturnya.

Ia menekankan bahwa menjaga habitat menjadi solusi utama dibanding mengusir satwa. “Kalau tempatnya aman, mereka tidak akan turun ke warga. Jadi sebenarnya bukan soal mengusir, tapi bagaimana kita sama-sama menjaga supaya manusia dan macan tutul bisa tetap hidup berdampingan.”

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera Haryn mengatakan kontribusi ini memperkuat memperkuat upaya pengelolaan konservasi berbasis data sejak 2024. “Sekaligus mendukung pemerintah dalam usaha pelestarian macan tutul jawa di Indonesia,” ujarnya.

Selain pengumpulan data populasi, program ini juga mencakup pelatihan teknik survei menggunakan kamera pengintai kepada puluhan peserta dari berbagai lembaga konservasi. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat basis data dan kapasitas pemantauan satwa liar sebagai fondasi perencanaan konservasi jangka panjang.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |