Aktivis Delpedro Diteror Saat Tampil di Sekolah Politik SMI

9 hours ago 1

Aktivis Lokataru Foundation Delpedro Marhaen diduga mengalami teror saat menjadi pembicara sekolah gerakan sosial Social Movement Institute di Yogyakarta pada 2-3 Mei. Sekolah ini membahas perjuangan sipil di tengah menyempitnya ruang demokrasi dan represi negara.

Delpedro merupakan eks tahanan politik demonstrasi Agustus 2025 yang bebas setelah Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan dia tidak bersalah bersama tiga orang lainnya pada Jumat, 6 Maret 2025. Delpedro menjadi terdakwa atas tuduhan menghasut orang untuk turun ke jalan saat gelombang demonstrasi Agustus 2025.

Aktivis itu menjadi pembicara bersama dosen Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Amalinda Savirani, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa UGM 2025 Tiyo Ardianto, penulis dan sosiolog Okky Madasari, dan aktivis SMI Muhammad Fakhrurrozi atau Paul. Sekolah gerakan sosial SMI merupakan bagian dari pendidikan politik bagi mahasiswa dan aktivis muda.

Delpedro mengatakan teror terhadapnya berupa penguntitan oleh orang tak dikenal saat dia di penginapan, lokasi acara, dan setelah acara. Ada tiga orang tidak dikenal, menggunakan satu mobil dan satu motor yang membuntuti Delpedro pada Ahad sore, 3 Mei 2026.

“Selama di perjalanan orang tidak dikenal ini terus mengikuti,” kata Delpedro, Selasa, 5 Mei 2026.

Dua orang yang menumpang mobil, kata Delpedro terlihat mengawasi di kafe yang berdekatan dengan penginapan. Ada juga yang menguntit mobil yang dikendarai aktivis SMI yang kembali ke kantor SMI.

Selain itu, pengelola penginapan memberikan informasi ada dua orang yang menanyakan keberadaan Delpedro di penginapan tersebut. Selain bertanya, dua orang tersebut sempat menunggu Delpedro. “Aktivis SMI yang bantu menjaga bilang keduanya bolak balik di sekitar penginapan dan kafe,” ujar Delpedro.

Setelah dari Yogyakarta, Delpedro bertolak ke Pengadilan Negeri Magelang untuk mengikuti sidang putusan terhadap tiga aktivis yang didakwa menghasut dalam demonstrasi Agustus 2025. Saat mengikuti persidangan hingga rampung, Delpedro merasa melihat sejumlah orang tak dikenal mendokumentasikan wajahnya dengan cara memfoto.

Pendiri SMI Eko Prasetyo mengatakan selain Delpedro, aktivis SMI dan satu peserta perempuan yang mengikuti sekolah itu mengalami teror melalui pesan WhatsApp. Peserta perempuan itu tiba-tiba mendapatkan pesan WhatsApp bernada ancaman. Bunyinya jangan ikut acara diskusi provokator, ingat kalian dalam pemantauan. Selain itu, ponsel peserta tersebut juga mengalami peretasan. “Dia ketakutan, tubuhnya gemetar, dan mengalami gangguan tidur,” kata Eko.

Pesan bernada ancaman dari nomor yang sama juga menyasar aktivis SMI. Pesan itu berbunyi tidak usah berlagak bak pahlawan kalau mau perempuan itu selamat. Agar kalian jera dan tidak membuat acara provokatif. Tunggu sebentar lagi. Ingat.

Eko menunjukkan foto tiga orang dengan ciri berbadan tegap yang sedang mengawasi Delpedro dan pesan peneror. Identitas peneror tersebut tak muncul dalam pencarian nomor melalui aplikasi Getcontact.

Eko menduga rangkaian kejadian tersebut masih berkaitan dengan aktivitas SMI yang kerap mengkritik pemerintah yang otoriter dan semakin militeristik. Meski kerap mendapatkan teror dan intimidasi, ia menegaskan organisasinya tidak akan berhenti menggelar sekolah politik.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat atau Karopenmas Divisi Hubungan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Trunoyudo Wisnu Andiko tidak merespons konfirmasi Tempo melalui pesan WhatsApp.

Pilihan Editor: Solidaritas Tahanan Politik Demonstrasi Agustus

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |