CANTIKA.COM, Jakarta - Tahukah kamu jika bentuk kekerasan yang paling sering terjadi justru kerap tidak disadari. Psikolog Agata Paskarista menjelaskan kekerasan psikis sering luput disadari karena tidak meninggalkan luka fisik. Sikap manipulatif tersebut bisa dibungkus sebagai perhatian, kontrol, atau candaan, padahal dampaknya sangat serius.
"Kasus child grooming dan juga manipulasi menunjukkan bagaimana kekerasan psikis berdampak jangka panjang bagi kehidupan korban. Edukasi tentang tanda kekerasan menjadi kunci agar kekerasan dapat dikenali lebih dini," ucap Agata saat menjadi pembicara di acara media gathering Beauty That Moves: International Women’s Day pada Kamis, 5 Maret 2026 di Jakarta.
Menurut Agata, sebegitu berpengaruhnya kekerasan psikis hingga meninggalkan dampak atau trauma yang berkepanjangan. "Penting dipahami bahwa luka tidak melulu fisik, tetapi juga psikis yang sampai membutuhkan terapi yang tidak sebentar agar bisa lepas dari beban," ucap dia.
Perlu diketahui juga bahwa sifat manipulatif lebih banyak dilakukan ke orang yang rentan dan kerap diputarbalikkan realitanya oleh pelaku. Itu mengapa korban kekerasan psikis ini kerap tidak menyadari sebab kebanyakan pelakunya adalah orang-orang yang dekat denga korban.
Psikolog Agata Paskarista saat menjadi pembicara di acara media gathering Beauty That Moves: International Women’s Day pada Kamis, 5 Maret 2026 di Jakarta/Foto: Doc. L'oreal
"Biasanya dimulai dengan hal-hal kecil dulu, tidak langsung besar, tapi lama-lama dampaknya terasa pada bagaimana korban tidak lagi bisa mengontrol diri sendiri. Bahkan tidak sedikit juga yang denial buat mengakui kalau seseorang telah menjadi korban manipulatif. Sampai korban ragu apakah ia telah mengalami kekerasan atau tidak," papar dia.
Agata juga menegaskan pentingnya membangun keberanian untuk bertindak dengan cara yang aman dan tepat. Intervensi tidak selalu berarti konfrontasi. Bisa dimulai dari langkah sederhana, memastikan korban merasa aman, mengalihkan situasi, atau mencari bantuan.
"Yang terpenting, jangan menyalahkan korban. Kekerasan bukan kesalahan korban, dan victim-blaming hanya memperparah trauma serta membuat korban semakin enggan melapor,” tambahnya.
Sebagai informasi, melansir data Komnas Perempuan yang dirilis pada 6 Maret 2026 menunjukkan bahwa kekerasan psikis ada di peringkat kedua sebanyak 32,48 persen setelah kekerasan seksual (37,51 persen).
Mayoritas korban berada pada kelompok usia 18-24 tahun dan 25-40 tahun, yakni fase pendidikan, awal kemandirian ekonomi, serta relasi kerja, dan perkawinan. Namun korban juga tercatat pada kelompok anak dan lanjut usia, menegaskan bahwa kekerasan berbasis gender terhadap perempuan dapat terjadi sepanjang siklus kehidupan perempuan.
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.
















































