REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING — Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAAF) diperkirakan telah mengoperasikan lebih dari 500 pesawat tempur siluman generasi kelima J-20, menjadikannya armada pesawat tempur generasi kelima terbesar yang dioperasikan oleh satu angkatan udara sejak berakhirnya Perang Dingin.
Sejumlah analis bahkan memperkirakan jumlah sebenarnya telah mendekati atau melampaui 600 unit, seiring pengiriman pesawat ke brigade-brigade baru yang belum seluruhnya diumumkan secara resmi.
Perkiraan tersebut didasarkan pada konfirmasi bahwa 18 brigade udara PLAAF kini telah menerima J-20. Dengan asumsi setiap brigade mengoperasikan sekitar 28 pesawat, jumlahnya mencapai 504 unit.
Selain itu, sekitar 40 hingga 60 pesawat lainnya diperkirakan digunakan untuk pelatihan dan pengembangan taktik. Karena pengiriman ke unit operasional sering baru diketahui beberapa bulan bahkan bertahun-tahun setelah dilakukan, jumlah armada aktif diyakini lebih besar dari angka yang telah terkonfirmasi.
Lonjakan produksi itu membuat J-20 melampaui laju pengadaan pesawat tempur generasi kelima Amerika Serikat. Hingga kini, Angkatan Udara AS diperkirakan menerima sekitar 430–450 unit F-35A sejak pengiriman dimulai pada 2011. Sementara produksi J-20 diperkirakan telah mencapai 100–120 unit per tahun, laju pengiriman F-35A dilaporkan turun menjadi sekitar 24–40 unit per tahun, sebagaimana diberitakan Military Watch Magazine beberapa waktu lalu.
Jika tren tersebut berlanjut, J-20 akan menjadi pesawat tempur generasi kelima dengan pertumbuhan armada tercepat di dunia yang seluruh produksinya digunakan oleh satu negara. Sebaliknya, produksi F-35 dibagi ke dalam tiga varian berbeda—F-35A, F-35B, dan F-35C—serta didistribusikan ke lebih dari 20 negara pengguna.
Analis penerbangan dari Aviation Week, Bradley Perrett, pernah menilai kemunculan J-20 sebagai lompatan besar kemampuan tempur udara China.
"Ini jelas merupakan langkah maju yang besar dalam kemampuan tempur China."
Perrett menyampaikan pernyataan tersebut kepada Reuters saat J-20 pertama kali tampil di hadapan publik dalam Airshow China di Zhuhai, Selasa, 1 November 2016, ketika pesawat siluman tersebut melakukan demonstrasi penerbangan untuk pertama kalinya.
Pandangan senada disampaikan analis militer China Zhang Xuefeng. Menurutnya, peningkatan kemampuan J-20 kini tidak lagi hanya bertumpu pada desain pesawat, tetapi juga pada integrasi radar, kecerdasan buatan (AI), dan kerja sama dengan drone tempur.
"AI akan menjadi fokus utama peningkatan J-20, membantu pilot dalam pertempuran jarak jauh dan operasi udara yang kompleks."

3 hours ago
2
















































