Ekonomi Berkembang, Rupiah Tumbang, Indef Soroti Kualitas Pertumbuhan

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Center of Macroeconomics and Finance INDEF Rizal Taufikurrahman mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026 secara makro memang terlihat kuat. Namun, lanjut Rizal, pasar keuangan justru memberikan sinyal yang berbeda melalui pelemahan rupiah hingga mendekati Rp 17.400 per dolar AS.

"Ini menunjukkan pasar tidak hanya melihat angka pertumbuhan headline, tetapi juga memperhatikan kualitas dan keberlanjutan pertumbuhan tersebut," ujar Rizal saat dihubungi Republika di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Dalam banyak kasus, ucap Rizal, pertumbuhan yang terlalu ditopang stimulus fiskal atau belanja pemerintah yang sangat tinggi dan konsumsi jangka pendek belum tentu diikuti penguatan fundamental eksternal maupun kepercayaan investor. Jika ditelaah lebih dalam, sambung Rizal, struktur pertumbuhan kuartal I 2026 masih didominasi konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah.

"Terutama efek musiman Ramadhan-Idul Fitri, percepatan belanja negara, serta program sosial seperti MBG," lanjut Rizal.

Sementara itu, ucap dia, tekanan eksternal justru meningkat. Rizal menyampaikan harga minyak dunia masih berada di atas 100 dolar AS per barel sehingga memperbesar beban impor energi dan risiko subsidi. Di saat yang sama, lanjut Rizal, kepemilikan asing di SBN terus turun dalam setahun terakhir, yield SBN cenderung naik, dan tekanan terhadap APBN mulai terlihat dengan defisit mencapai sekitar 0,93 persen PDB per Maret 2026.

"Artinya, pasar membaca adanya risiko fiskal dan eksternal yang lebih besar dibanding optimisme pertumbuhan domestik," lanjutnya.

Selain itu, Rizal menyampaikan ada indikasi pertumbuhan belum sepenuhnya mencerminkan penguatan sektor produktif. Ia mengatakan Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia pada April 2026 sudah kembali masuk zona kontraksi, investasi belum melonjak agresif, dan daya beli kelas menengah masih tertahan akibat tekanan biaya hidup dan tingginya suku bunga.

"Jadi secara ekonomi, kondisi ini bukan sepenuhnya janggal, tetapi menunjukkan adanya disconnect antara pertumbuhan statistik dengan persepsi pasar dan kondisi riil di lapangan," kata Rizal.

Rizal mengatakan hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah. Ia menyampaikan stabilitas nilai tukar pada akhirnya sangat dipengaruhi oleh kredibilitas fiskal, ketahanan eksternal, dan keyakinan investor terhadap arah ekonomi ke depan.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |