Pendukung Presiden AS Pecah, Pengamat Amerika: Mereka Merasa Dikhianati Donald Trump

1 hour ago 1

Presiden AS Donald Trump.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Retaknya soliditas gerakan Make America Great Again (MAGA) mulai terlihat seiring meningkatnya kritik terhadap Presiden AS Donald Trump terkait kebijakan militernya terhadap Iran.

Sejumlah tokoh berpengaruh yang selama ini menjadi pilar dukungan Trump kini berbalik arah dan menilai langkah tersebut sebagai pengkhianatan terhadap janji kampanye.

Tokoh konservatif terkemuka Tucker Carlson secara terbuka menyatakan penyesalannya telah mendukung Trump. Dalam pernyataannya pada 20 April, ia mengaku telah “menyesatkan publik” dan menilai perang terhadap Iran tidak memberikan manfaat bagi keamanan Amerika Serikat, melainkan lebih mencerminkan kepentingan sekutu Washington, khususnya Israel.

Kritik serupa juga datang dari figur MAGA lainnya, seperti Megyn Kelly dan Candace Owens. Keduanya menilai kebijakan Trump telah menyimpang dari janji kampanye yang selama ini menjadi basis dukungan politiknya, terutama komitmen untuk menghindari keterlibatan dalam konflik luar negeri.

Hal ini pergeseran sikap ini menunjukkan adanya friksi serius di dalam kubu pendukung Trump. Peneliti senior di Brookings Institution, Darrell West, menyebut presiden kini menghadapi tekanan dari tokoh-tokoh yang sebelumnya menjadi mesin penggerak dukungan pada Pemilu 2024.

“Trump memiliki masalah besar dengan sejumlah influencer yang dahulu mendukungnya, tetapi kini merasa dikhianati. Ia berjanji mengakhiri perang luar negeri, namun justru terlibat dalam operasi militer di berbagai kawasan,” ujar West.

Meski demikian, dukungan terhadap kebijakan militer tersebut tidak sepenuhnya runtuh. Jajak pendapat ABC News/The Washington Post/Ipsos menunjukkan mayoritas pemilih Republikan yang terafiliasi dengan MAGA masih mendukung aksi militer terhadap Iran. Namun secara nasional, sekitar 61 persen warga Amerika menilai kebijakan tersebut sebagai kesalahan.

Di tingkat akar rumput, sikap pendukung Trump menunjukkan dinamika yang lebih kompleks. Sebagian tetap mendukung presiden, tetapi tidak sedikit yang mempertanyakan urgensi keterlibatan militer di luar negeri, terutama di tengah persoalan domestik yang belum terselesaikan.

Sejumlah analis menilai perpecahan ini berpotensi berdampak pada kinerja Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu mendatang. Profesor ilmu politik di Saint Anselm College, Christopher Galdieri, memperingatkan bahwa kekecewaan di kalangan pemilih dapat menurunkan partisipasi, meskipun mereka tidak serta-merta beralih ke Partai Demokrat.

sumber : Xinhua

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |