Jangan Sepelekan Sesak Napas Saat Naik Tangga, Bisa Terkait Aritmia

8 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sesak napas setelah menaiki tangga kerap dianggap sebagai hal biasa, terutama ketika seseorang jarang berolahraga atau memiliki tingkat kebugaran yang rendah. Padahal kondisi tersebut bisa jadi tanda aritmia atau gangguan irama jantung.

Dokter spesialis jantung konsultan, Dr Monik Mehta, mengatakan sesak napas yang muncul setelah aktivitas ringan yang disertai pusing, jantung berdebar, hingga rasa tidak nyaman di dada perlu diwaspadai. Dalam beberapa kasus, keluhan tersebut dapat menjadi tanda aritmia.

Aritmia terjadi ketika detak jantung terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan jantung dalam memompa darah secara efisien.

"Ketika detak jantung terlalu lambat, terlalu cepat atau tidak teratur, jantung mungkin tidak mengalirkan cukup darah dan oksigen ke tubuh selama aktivitas," jelas Dr Mehta dilansir laman Hindustan Times, Ahad (16/8/2026).

Gejala yang dapat muncul berbeda-beda, tergantung jenis dan tingkat keparahan gangguan irama. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan meliputi sesak napas, jantung berdebar, kelelahan, pusing, rasa tidak nyaman di dada, hingga penurunan toleransi terhadap aktivitas fisik.

Salah satu kondisi yang perlu mendapat perhatian khusus adalah heart block atau blok jantung. Pada kondisi ini, sinyal listrik yang menghubungkan ruang atas dan ruang bawah jantung mengalami keterlambatan atau terputus.

"Beberapa jenis kondisi ini dapat menyebabkan detak jantung menjadi sangat lambat dan memerlukan pemeriksaan medis segera," kata dia.

Dr Mehta menekankan pentingnya diagnosis dini untuk mencegah komplikasi. Untuk mengetahui penyebab sesak napas atau gangguan irama, dokter dapat melakukan sejumlah pemeriksaan, antara lain elektrokardiogram (EKG), pemantauan Holter, ekokardiografi, tes stres jantung, serta pemeriksaan darah.

Sementara itu, penanganan aritia tidak sama untuk setiap pasien. Terapi ditentukan berdasarkan jenis gangguan irama dan tingkat keparahannya.

Sebagian pasien dapat ditangani dengan obat-obatan yang membantu mengendalikan detak dan irama jantung. Namun, pada kondisi tertentu, diperlukan prosedur atau intervensi yang lebih lanjut.

"Salah satunya adalah ablasi kateter, yaitu prosedur minimal invasif yang digunakan untuk menangani fibrilasi atrium dan sejumlah jenis aritmia lainnya. Prosedur ini dilakukan dengan menghilangkan jalur listrik abnormal yang menyebabkan gangguan irama," jelas Dr Mehta.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |