REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Malam perlahan turun di langit Jawa, membawa serta gema yang akrab bagi umat Muslim: takbir yang bersahut-sahutan, mengalun dari masjid ke jalanan, dari hati ke hati. Di antara cahaya lampu dan riuh langkah warga, malam itu bukan sekadar penanda berakhirnya Ramadhan, melainkan juga perayaan kebersamaan yang menghidupkan tradisi.
Di Perumahan Tlogosari, Semarang, suasana itu menjelma dalam bentuk yang tak biasa. Deretan bajaj yang dihias warna-warni berbaris rapi di halaman Masjid Al Ikhlas Semarang, menjadi pusat perhatian warga. Kendaraan roda tiga yang sehari-hari identik dengan hiruk-pikuk kota, malam itu bertransformasi menjadi kendaraan syiar, mengangkut anak-anak dan remaja yang melantunkan takbir dengan penuh semangat.
Rombongan itu kemudian bergerak perlahan, menyusuri jalan-jalan kompleks sejauh lima kilometer. Dari Bundaran Tlogosari hingga ruas-ruas jalan kecil yang akrab bagi warga, gema “Allahu Akbar” mengalun, berpadu dengan tawa anak-anak dan deru sepeda motor yang mengiringi. Di balik kemeriahannya, tersimpan makna sederhana: merayakan kemenangan dengan cara yang membumi.
Ketua panitia, Arianto Wibowo, menyebut pawai takbiran ini sebagai tradisi yang terus dijaga. Tahun-tahun sebelumnya, mereka menggunakan odong-odong. Namun, kali ini ada semangat baru yang ingin dihadirkan.
“Bajaj sedang tren di Semarang, jadi kami coba konsep berbeda,” ujarnya. Sebanyak 25 bajaj pun dihias dengan kembang manggar dan ornamen khas Lebaran, menciptakan iring-iringan yang bukan hanya meriah, tetapi juga penuh kreativitas.
Di atas salah satu bajaj, Efan (10) tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Baginya, malam takbiran adalah tentang pengalaman yang tak terlupakan, berkeliling bersama teman sebaya, merasakan kebersamaan yang mungkin hanya datang setahun sekali.
“Senang banget. Tahun lalu naik odong-odong, sekarang bajaj. Seru,” katanya polos.
Sepanjang perjalanan, rombongan itu berpapasan dengan kelompok lain yang merayakan dengan cara berbeda, ada yang berjalan kaki, ada yang menaiki becak hias, bahkan mobil terbuka. Jalanan berubah menjadi panggung bersama, tempat tradisi hidup dalam beragam bentuk.
Di tempat lain, suasana serupa juga mengalir deras di Karawang. Ribuan warga tumpah ke jalan, memadati pusat kota dengan iring-iringan kendaraan terbuka yang membawa bedug dan pengeras suara. Dari atas mobil, takbir dilantunkan dengan penuh penghayatan, diiringi tabuhan bedug yang ritmis dan menggema.
sumber : Antara

10 hours ago
4
















































