Retizen Republika
Eduaksi | 2026-07-09 11:13:49
Oleh: Ansar Salihin *)
Tidak lama lagi sekolah akan menyambut tahun ajaran baru setelah libur panjang berakhir. Berdasarkan kalender pendidikan, kegiatan pembelajaran ajaran 2026/2027 secara resmi dimulai pada 13 Juli 2026. Momentum ini menjadi awal perjalanan baru bagi siswa yang memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, mulai dari SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA/SMK.
Setiap tahun, sekolah dan madrasah menyambut siswa baru melalui kegiatan pengenalan lingkungan sekolah. Di sekolah umum kegiatan ini dikenal dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), sedangkan di madrasah pada tahun 2026 mengalami perubahan nomenklatur dari Madrasah Masa Ta'aruf Siswa (MATSAMA) menjadi Madrasah Masa Ta'aruf Murid (MATAMUDA).
Kegiatan tersebut seharusnya tidak sekedar menjadi agenda seremonial tahunan atau kegiatan formalitas belaka. Lebih dari itu, masa pengenalan sekolah harus menjadi ruang pembentukan karakter, budaya belajar, dan kesiapan siswa dalam menghadapi tantangan pendidikan di era modern. Praktik perpeloncoan, tugas-tugas yang tidak mendidik, atau kegiatan yang tidak memiliki tujuan pembelajaran yang jelas sudah seharusnya dihindari.
Salah satu langkah penting yang perlu dihadirkan dalam MPLS maupun MATAMUDA adalah penguatan literasi. Literasi merupakan fondasi utama dalam pendidikan yang berkelanjutan. Kemampuan literasi yang baik akan membantu siswa memahami pelajaran, mengembangkan daya pikir kritis, serta membangun kebiasaan belajar sepanjang hayat.
Perkembangan teknologi digital saat ini semakin mempertegas pentingnya penguatan literasi sejak dini. Anak-anak dan remaja tumbuh di tengah derasnya arus informasi dari internet, media sosial, dan berbagai platform digital. Tidak sedikit siswa yang menghabiskan waktu berjam-jam bermain game online atau berselancar di media sosial tanpa kemampuan yang mampu untuk memilah informasi yang benar dan bermanfaat.
Kondisi tersebut menuntut sekolah untuk memberikan perhatian khusus terhadap literasi digital. Siswa tidak cukup hanya mampu menggunakan gawai atau mengoperasikan aplikasi, tetapi juga harus mampu memahami etika digital, menjaga keamanan data pribadi, mengenali berita palsu, serta menggunakan teknologi untuk belajar dan berkarya secara produktif.
Secara umum, literasi dipahami sebagai kumpulan keterampilan membaca, menulis, memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi secara kritis. Namun dalam pengertian yang lebih luas, literasi merupakan kemampuan seseorang untuk menerima, mengolah, dan menyampaikan informasi dalam berbagai bentuk dan konteks kehidupan.
Oleh karena itu, penguatan literasi bagi siswa baru sebaiknya tidak hanya terfokus pada kemampuan membaca dan menulis semata, melainkan juga mencakup berbagai jenis literasi yang dibutuhkan pada abad ke-21.
Pertama, literasi dasar atau baca tulis. Literasi ini menjadi pintu masuk bagi seluruh proses pembelajaran. Kemampuan membaca dengan pemahaman yang baik dan menulis secara efektif akan menentukan keberhasilan siswa dalam mempelajari berbagai mata pelajaran.
Kedua, literasi numerasi, yaitu kemampuan memahami angka, data, grafik, dan berbagai persoalan yang berkaitan dengan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Literasi numerasi membantu siswa berpikir logis, sistematis, dan mampu mengambil keputusan berdasarkan data.
Ketiga, literasi media. Di tengah banjir informasi, siswa perlu memiliki kemampuan untuk memahami bagaimana media bekerja, mengenali pesan yang disampaikan, serta memberi isyarat kritis terhadap informasi yang diterima dari televisi, internet, maupun media sosial.
Keempat, literasi digital yang menjadi kebutuhan mendesak di era teknologi saat ini. Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis, beretika, dan bertanggung jawab dalam ruang digital.
Kelima, literasi finansial. Siswa perlu dikenalkan sejak dini mengenai pengelolaan keuangan, pentingnya menabung, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta memahami konsep ekonomi sederhana sebagai bekal kehidupan di masa depan.
Keenam, literasi budaya. Indonesia memiliki keragaman budaya yang sangat kaya. Literasi budaya akan membantu siswa memahami identitas bangsa, menghargai perbedaan, serta menumbuhkan sikap toleransi dan cinta terhadap budaya daerah maupun budaya nasional.
Dengan demikian, masa pengenalan sekolah atau madrasah seharusnya menjadi momentum strategi untuk menanamkan budaya literasi kepada siswa baru. Kegiatan seperti membaca bersama, kunjungan ke perpustakaan, pelatihan literasi digital, diskusi buku, hingga pengenalan karya budaya lokal dapat menjadi bagian dari program MPLS maupun MATAMUDA.
Pada akhirnya, sekolah tidak hanya bertugas menyambut siswa baru, tetapi juga menyiapkan generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, adaptif, dan bertanggung jawab dalam menghadapi perubahan zaman. Penguatan literasi sejak hari pertama memasuki sekolah merupakan investasi penting untuk melahirkan generasi pembelajar yang siap menghadapi tantangan masa depan.
*) Penulis adalah Guru MAN 1 Aceh Besar dan Penggiat Literasi Nasional
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

9 hours ago
5










































