Alya Mukhbita
Teknologi | 2026-07-09 11:07:57
By Pixar Animation Studios - "Toy Story 5". Walt Disney Studios. Retrieved February 19, 2026., Fair use, https://en.wikipedia.org/w/index.php?curid=81
Siapa sangka, di balik petualangan seru para mainan, Toy Story 5 ternyata menyimpan pesan yang cukup menohok tentang kehidupan anak-anak di era digital. Bonnie diceritakan sempat merasa kesepian karena sulit menemukan teman yang punya kesukaan yang sama dengannya. Saat hampir semua anak lebih memilih menghabiskan waktu dengan gadget, Bonnie justru masih asyik bermain bersama Jessie, Buzz, Bullseye, dan mainan kesayangannya. Perbedaan itulah yang membuat Bonnie perlahan merasa terasing dari lingkungan sekitarnya.
Melihat kondisi itu, orang tua Bonnie akhirnya membelikan sebuah tablet bertema katak bernama Lilypad. Harapannya sederhana, supaya Bonnie lebih mudah bergaul dan punya banyak teman. Sayangnya, keputusan itu justru membuka masalah baru. Alih-alih membuat hubungan sosial Bonnie semakin sehat, gadget malah menjadi pusat dari cara ia berinteraksi dengan teman-temannya. Padahal, selama ini justru Jessie, Buzz, dan para mainan lainlah yang selalu hadir menemani Bonnie tanpa syarat.
Lewat cerita tersebut, Toy Story 5 bukan cuma mengajak penonton bernostalgia dengan para mainan legendaris. Film ini juga menyindir bagaimana teknologi perlahan mengubah cara anak bermain, berimajinasi, bahkan menjalin pertemanan.
Ketika Layar Digital Menggusur Kehangatan Kamar Anak
Bonnie tentu sangat senang saat pertama kali menerima Lilypad. Namun, sejak tablet itu hadir, semuanya mulai berubah. Perhatian yang dulu sepenuhnya diberikan kepada mainan kini beralih ke layar. Jessie, Buzz, Bullseye, dan teman-temannya yang dulu selalu menjadi bagian dari setiap petualangan Bonnie perlahan hanya tersimpan di sudut kamar, menunggu untuk dimainkan lagi.
Kondisi ini terasa begitu dekat dengan kehidupan anak-anak sekarang. Mas Rawanda, seorang pegawai Kemendikbud yang bertugas mencatat data lapangan mengenai keluhan orang tua terkait kecanduan pada anak mengatakan bahwa anak sekarang itu digital natives alias bisa cepat bosan memainkan boneka atau mobil-mobilan, tetapi betah berjam-jam menatap layar. Wajar saja, karena dunia digital menawarkan hiburan yang serba instan lewat video pendek, game, animasi, hingga efek visual yang terus memancing rasa penasaran.
Padahal, saat bermain dengan mainan fisik, anak bebas menjadi sutradara bagi dunianya sendiri. Mereka bisa menciptakan tokoh, menyusun alur cerita, sampai membayangkan petualangan tanpa batas. Sebaliknya, saat bermain di dunia digital, hampir semua aturan sudah ditentukan. Anak tinggal mengikuti jalan cerita yang dibuat oleh game atau aplikasi.
Lewat Lilypad, Toy Story 5 seolah memberi lampu kuning kepada para orang tua. Teknologi memang tidak bisa dihindari, tetapi jangan sampai membuat ruang imajinasi anak semakin menyempit. Sebab, kamar anak seharusnya bukan hanya dipenuhi cahaya layar, melainkan juga tawa, kreativitas, dan petualangan yang lahir dari imajinasi mereka sendiri.
Ketika Anak-Anak Lupa Cara Berteman yang Tulus
Niat orang tua Bonnie sebenarnya sangat baik. Mereka berharap Lilypad bisa membantu Bonnie lebih mudah bergaul dan tidak lagi merasa sendirian. Namun, kenyataannya tidak semudah itu. Setelah memiliki gadget, Bonnie memang mulai lebih sering berinteraksi dengan teman-temannya. Sayangnya, hubungan yang terbangun terasa semakin bergantung pada dunia digital.
Pertemanan mulai diukur dari game yang dimainkan, aplikasi yang digunakan, atau tren yang sedang viral. Hari ini seseorang bisa dianggap teman dekat karena memainkan game yang sama, tetapi besok bisa saja dijauhi karena sudah tidak mengikuti tren terbaru. Bahkan, Mas Rawanda juga mengatakan kondisi seperti ini juga bisa membuka peluang munculnya cyberbullying yang berdampak buruk pada kesehatan mental anak.
Fenomena itu rasanya sudah sering kita lihat di sekitar. Sekelompok anak berkumpul di tempat yang sama, tetapi masing-masing sibuk menatap layar gadgetnya. Mereka memang duduk berdampingan, tetapi hampir tidak ada percakapan yang benar-benar hangat. Teknologi memang membuat komunikasi jadi lebih mudah, tetapi belum tentu membuat hubungan antarmanusia menjadi lebih dekat.
Lewat kisah Bonnie, Toy Story 5 mengingatkan bahwa pertemanan sejati tidak dibangun dari algoritma, tren internet, atau jumlah teman di dunia digital. Pertemanan yang tulus lahir dari kebersamaan, empati, dan kehadiran nyata saat seseorang membutuhkan dukungan.
Pada akhirnya, Toy Story 5 mengajak kita melihat bahwa teknologi bukanlah musuh. Yang perlu dijaga adalah keseimbangannya. Gadget boleh menjadi bagian dari masa kecil anak, tetapi jangan sampai mengambil alih semuanya. Sebab, secanggih apa pun teknologi, tidak ada yang bisa menggantikan serunya bermain bersama, bebas berimajinasi, dan memiliki teman yang benar-benar hadir di dunia nyata.
Referensi
IndonesiaBaikID. (2020, 16 Maret). Digital Parenting - Bahaya dan Manfaat Gadget Untuk Anak. [Video Podcast]. Podcast SohibID Ep.08. YouTube. https://youtu.be/U1xV96ZhquI?si=w19JjIoFPY8KFy2s
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

9 hours ago
5










































