REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pagi itu, langit Mataram masih menyimpan sisa kekhusyukan. Gema takbir yang semalaman mengalun dari menara ke menara perlahan mereda, digantikan oleh deru langkah ribuan pasang kaki yang bergerak ke segala arah.
Sebagian menuju rumah keluarga, meja makan yang penuh, dan pelukan yang lama tertunda. Sebagian lain, justru menuju tempat yang paling sunyi dari semua tempat di hari yang meriah itu: pemakaman.
Di situlah Lebaran di Nusa Tenggara Barat menemukan wajahnya yang paling jujur.
Tradisi ziarah kubur setelah Shalat Id bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan turun-temurun. Ia adalah bentuk percakapan yang tak pernah benar-benar terputus, percakapan antara yang masih hidup dan yang telah pergi, antara doa yang dipanjatkan hari ini dan kenangan yang tak mau berdiam.
Para peziarah melangkah pelan di antara nisan-nisan, membawa bunga rampai, membawa nama-nama yang selalu mereka sebut dalam shalat, dan membawa rindu yang tidak cukup hanya diungkapkan dengan kata.
Namun di balik kesyahduan itu, ada denyut lain yang berdegup sama kuatnya. Denyut ekonomi.
Bunga Rampai dan Kearifan yang Tak Tercatat
Di pintu-pintu masuk pemakaman, para pedagang bunga rampai sudah berdiri jauh sebelum matahari benar-benar tinggi. Tumpukan bunga berwarna-warni itu bukan sekadar dagangan. Ia adalah titik temu antara tradisi spiritual dan kebutuhan praktis, antara hajat batin para peziarah dan kebutuhan perut para pedagang.
Pada Lebaran 2026, omzet mereka melonjak. Dalam hitungan setengah hari, pendapatan bisa mencapai tiga hingga empat kali lipat dibanding hari-hari biasa. Angka yang, bagi sebagian orang, mungkin terdengar kecil. Namun bagi mereka yang menggantungkan hidup pada lapak sederhana di pinggir jalan, angka itu adalah selisih antara cukup dan kurang.
Yang menarik bukan hanya lonjakan omzetnya, melainkan cara para pedagang merespons tekanan dari balik angka itu. Harga bahan baku naik, didorong oleh faktor cuaca dan tingginya permintaan yang datang bersamaan. Namun harga jual kepada pembeli tidak serta-merta ikut melonjak. Para pedagang memilih menyesuaikan volume atau isi produk daripada membebani pembeli dengan kenaikan harga yang tiba-tiba.
Ini adalah kearifan ekonomi yang lahir bukan dari kelas atau pelatihan formal, melainkan dari pengalaman panjang bertahan di sektor informal, dari naluri membaca pasar yang tumbuh beriringan dengan kebutuhan menjaga kepercayaan pelanggan.
Di sekitar kawasan pemakaman, ekosistem kecil itu terus berkembang. Penjual air minum dalam botol bekas hadir sebagai solusi cepat bagi peziarah yang datang tergesa-gesa. Juru parkir dadakan mengatur lalu lintas kendaraan yang mendadak memadati ruas jalan sempit. Di Lombok Tengah, pendapatan harian seorang juru parkir pada hari itu bisa melampaui Rp100 ribu, angka yang sederhana namun cukup bermakna sebagai bantalan ekonomi bagi keluarga di hari raya.
sumber : Antara

5 hours ago
2

















































