BADAN Pusat Statistik atau BPS mencatat tiga komponen pengeluaran dengan pertumbuhan tertinggi pada kuartal I-2026. “Penyumbang utama pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 adalah konsumsi rumah tangga, PMTB, dan konsumsi pemerintah,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, dalam konferensi pers di gedung BPS, Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.
Konsumsi pemerintah menjadi komponen pengeluaran dengan pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 21,81 persen secara tahunan. Konsumsi pemerintah berkontribusi 6,72 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) periode Januari–Maret 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
BPS mencatat pertumbuhan konsumsi pemerintah didorong oleh realisasi pembayaran gaji ke-14 serta belanja barang dan jasa terutama berkaitan dengan proyek Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun, berdasarkan kontribusi pengeluaran tertinggi terhadap PDB, Amalia mengatakan, konsumsi rumah tangga menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi. Adapun konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen dan berkontribusi 54,36 persen terhadap PDB.
Menyusul rumah tangga, jenis pengeluaran dengan kontribusi tertinggi terhadap PDB adalah pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yakni sebesar 28,29 persen. Kemudian di urutan ketiga adalah pengeluaran ekspor, yakni 21,22 persen terhadap PDB. Adapun kontribusi konsumsi ekspor berada di peringkat keempat.
Amalia menjelaskan, meskipun konsumsi pemerintah tumbuh tinggi, pengeluaran rumah tangga tetap menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi. Ia mengakui kontribusi konsumsi pemerintah belum bisa membalap rumah tangga dan investasi. “Karena proporsi atau share-nya memang paling banyak dari sisi nilai PDB, baik PDB atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan,” katanya.
Adapun pertumbuhan ekonomi periode Januari—Maret 2026 meningkat sebesar 5,61 persen secara tahunan. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2025 tercatat 4,87 persen. Besaran PDB pada kuartal pertama 2026 terdiri dari atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar Rp 6.187,2 triliun dan atas dasar harga konstan (ADHK) sebesar Rp 3.447,7 triliun.
Dari sisi produksi, lapangan usaha yang memberi kontribusi utama terhadap pertumbuhan PDB adalah pengolahan, perdagangan, pertanian, dan konstruksi. Lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi adalah industri pengolahan yang tumbuh 1,03 persen. Kemudian disusul perdagangan sebesar 0,82 persen, pertanian 0,55 persen, dan konstruksi sebesar 0,53 persen.
Menurut Amalia, pertumbuhan industri pengolahan pada kuartal I-2026 didorong oleh permintaan domestik dan luar negeri. Industri makanan dan minuman, misalnya, tumbuh 7,04 persen karena peningkatan permintaan selama Ramadan dan Idul Fitri.

















































