REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tekanan harga minyak dunia yang bertahan tinggi mulai terasa dampaknya di dalam negeri. Kondisi ini dinilai dapat merembet ke inflasi, seiring naiknya biaya produksi dan distribusi.
Kenaikan harga energi global dipicu gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah. Reuters melaporkan, harga minyak dunia terus menguat dalam beberapa hari terakhir, dengan Brent crude berada di kisaran 115 dolar AS per barel.
Ekonom dan pakar kebijakan publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, mengatakan kenaikan harga energi tidak berhenti di pasar global, tetapi langsung memengaruhi kehidupan sehari-hari.
“Kenaikan harga energi akan merambat ke ongkos produksi, distribusi, hingga harga kebutuhan pokok,” ujarnya dalam pesan singkatnya kepada wartawan dikutip Selasa (31/3/2026).
Menurut dia, dalam ekonomi yang saling terhubung, gejolak di kawasan Timur Tengah dapat berdampak hingga ke dalam negeri, terutama melalui tekanan harga energi.
Di sisi lain, ekonom Yanuar Rizky menilai persoalan saat ini tidak hanya terkait harga, tetapi juga ketersediaan pasokan minyak.
“Masalahnya bukan di soalan asumsi harga di APBN, tapi apa Indonesia akan dapat barangnya?” kata Yanuar.
Ia menjelaskan, kondisi pasar minyak global menunjukkan ketidakpastian. Posisi transaksi di bursa komoditas yang didominasi posisi jual mencerminkan adanya tekanan pada pasokan.
“Game changer dimainkan Iran, bukan di price, tapi di siapa yang boleh lewat Hormuz,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, Reuters juga mencatat Selat Hormuz menjadi titik krusial distribusi energi dunia. Jalur ini dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global, sehingga gangguan di kawasan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan.
Selain tekanan global, besarnya beban energi juga tercermin dalam anggaran negara. Ekonom Bright Institute Awalil Rizky sebelumnya menyebut, dalam beberapa tahun terakhir belanja negara banyak terserap untuk kompensasi energi.
“Sebagian besar BLL (belanja lain-lain) memang terserap untuk kompensasi energi,” ujar Awalil.
sumber : ANTARA

5 hours ago
4
















































