Presiden AS Donald Trump saat rapat kabinet di Ruang Kabinet Gedung Putih di Washington, DC, 26 Maret 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Arah kebijakan Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran mulai menunjukkan pergeseran. Presiden Donald Trump dilaporkan bersedia mengakhiri operasi militer, bahkan jika Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global, tetap tertutup.
Sikap ini menandai perubahan signifikan dari pendekatan sebelumnya yang menempatkan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai prioritas strategis. Kini, Gedung Putih justru mempertimbangkan skenario penghentian perang tanpa memastikan jalur tersebut kembali normal.
Menurut laporan Wall Street Journal dan Ria Novosti, Trump menilai upaya membuka selat justru berisiko memperpanjang konflik melampaui target operasi yang telah ditetapkan selama empat hingga enam minggu. Karena itu, Washington memilih fokus pada tujuan utama: melemahkan kemampuan angkatan laut Iran serta persediaan rudalnya, sambil menekan Teheran melalui jalur diplomasi.
Jika pendekatan tersebut tidak membuahkan hasil, Amerika Serikat disebut akan mendorong sekutu di Eropa dan kawasan Teluk untuk mengambil alih inisiatif membuka kembali Selat Hormuz. Opsi militer tetap terbuka, namun tidak lagi menjadi prioritas utama dalam kalkulasi Washington saat ini.
Keputusan ini muncul di tengah eskalasi konflik yang telah berlangsung sekitar satu bulan sejak operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai. Serangan dan balasan terus terjadi di kedua pihak, memperburuk situasi keamanan regional sekaligus mengganggu jalur pelayaran internasional.
Dampaknya terasa langsung pada Selat Hormuz, yang selama ini menjadi urat nadi distribusi minyak dan gas dunia. Penutupan sebagian besar jalur tersebut tidak hanya menekan pasar energi global, tetapi juga meningkatkan kekhawatiran akan krisis ekonomi yang lebih luas.
Di sisi lain, langkah Washington juga diiringi upaya membuka jalur diplomasi. Pemerintah AS dilaporkan telah menawarkan proposal penyelesaian konflik yang mencakup penghentian program nuklir Iran, pembatasan pengembangan rudal, serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Sebagai imbalannya, Washington menawarkan keringanan sanksi dan kerja sama dalam pengembangan energi nuklir sipil. Namun, proposal tersebut ditolak oleh Teheran, yang mengajukan syaratnya sendiri.

5 hours ago
2
















































