REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran mengonfirmasi syahidnya Ayatullah Khamenei pada Sabtu (28/2/2026) dini hari di kantornya "saat sedang menjalankan tugas." Media pemerintah setempat juga melaporkan, putri, menantu, serta seorang cucu sang pemimpin tertinggi Iran turut gugur dalam serangan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel tersebut.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam tindakan AS-Israel yang dinilai barbar tersebut. Wakil Ketua Umum MUI Buya Anwar Abbas mengingatkan, bukan kali ini saja presiden AS Donald Trump bertindak sewenang-wenang terhadap siapapun pemimpin negara yang dianggapnya melawan kemauan Washington, sekutu terdekat zionis.
"Dengan kekuatan ekonomi, politik, dan teknologi negaranya, Donald Trump menangkap dan membunuh pucuk pimpinan tertinggi dari negara-negara lain yang tidak mau mengikuti perintahnya sehingga. Sebelumnya, Maduro, presiden Venezuela, diculik dan diterbangkan ke negaranya untuk ditahan. Sekarang, Ali Khamenei dibunuhnya," ujar Buya Anwar kepada Republika, Ahad (1/3/2026).
Ia pun menyayangkan lembaga-lembaga dunia yang tampak tak berdaya di hadapan kesewenang-wenangan AS. Bahkan, lanjut Buya Anwar, PBB pun seperti sudah kehilangan wibawa, tidak lagi mampu memelihara keamanan internasional.
"Xi Jinping dari China dan Putin dari Rusia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, tidak mustahil nama mereka berdua juga telah masuk ke dalam daftar pemimpin dunia yang akan 'dimadurokan' atau 'dikhameneikan,'" ucap Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.
Sekalipun publik AS cenderung berkurang simpatinya pada Israel, seperti terlihat dari survey terkini, Washington tampak tak peduli. Dengan dalih melindungi eksistensi entitas zionis tersebut di Timur Tengah, Trump tetap menyertakan militer negaranya dalam operasi sepihak yang menyasar Iran, hingga detik ini.
"Melihat sikap dan perilaku Trump yang sangat banyak merusak akhir-akhir ini, maka kita dapat menyimpulkan bahwa Trump telah berhasil mengukuhkan dirinya menjadi bandit terbesar dan terbiadab abad ini," kata Buya Anwar.

4 hours ago
3
















































