AI Jadi Andalan Petani Afrika Hadapi Perubahan Iklim

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, MACHAKOS -- Di balik tantangan perubahan iklim yang mendera sektor pertanian global, secercah harapan muncul dari hamparan lahan jagung di Kenya. Para petani kecil di Afrika memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dari layar telepon pintar mereka untuk mendiagnosis penyakit tanaman, memprediksi cuaca, hingga mencari rekomendasi pemupukan.

AI memangkas ketergantungan petani pada metode tradisional yang kerap lambat dan mahal. Petani di Matungulu, Machakos County, Kenya, John Wambua, menjadi saksi revolusi digital ini.

Dengan membuka aplikasi di telepon pintarnya, ia memotret daun jagung yang mulai menunjukkan gejala bercak. Hanya dalam 20 detik, aplikasi itu mendiagnosis serangan hama ulat grayak jagung (fall armyworm) dan langsung menyodorkan sejumlah solusi penanganan.

“Aplikasi ini sangat membantu saya dan banyak petani di sekitar sini,” kata Wambua seperti dikutip dari China Daily, Jumat (8/5/2026).

Ia menambahkan aplikasi tersebut tidak hanya mendiagnosis masalah, tetapi juga memberikan respons instan, rekomendasi yang disesuaikan, dan gambaran hasil yang diharapkan. Wambua mengatakan kini tak perlu lagi memanggil ahli agronomi untuk menguji pH tanahnya.

Aplikasi itu mampu melakukan tugas tersebut sehingga membantunya memangkas biaya operasional secara signifikan. Lebih dari itu, fitur prakiraan cuaca memberinya keunggulan strategis.

“Ketika hujan mulai turun, banyak petani tidak menanam karena mereka mengira musim hujan belum tiba. Saya menanam karena aplikasi sudah memprediksi hujan telah dimulai. Itulah mengapa ukuran jagung saya lebih besar dari yang lain di desa ini,” katanya.

Hal senada diungkapkan Cynthia Ayekoh, petani di Kangundo. Ia menyebut inovasi ini revolusioner.

“Saya tidak perlu lagi mencari ahli agronomi. Saya tinggal pakai aplikasi dan langsung dapat solusi, yang juga lebih murah bagi saya,” katanya.

Ayekoh menekankan deteksi dini hama dan penyakit sangat penting. Alat ini, katanya, membantu menghindari kesalahan diagnosis yang sebelumnya sering membuat petani menyemprotkan bahan kimia yang salah, merusak tanaman, dan menurunkan hasil panen.

Aplikasi yang digunakan Wambua dan Ayekoh adalah PlantVillage+, yang mulai diperkenalkan di wilayah tersebut sekitar tiga tahun lalu. Di Kenya dan seluruh Afrika, adopsi AI diam-diam telah merambah banyak sektor, terutama pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi banyak negara.

Alat lain seperti Virtual Agronomist juga telah digunakan petani kecil Kenya untuk mendapatkan saran waktu nyata (real-time) tentang pengendalian hama, penggunaan pupuk, dan deteksi penyakit tanaman.

Musau Mutisya, perwakilan penjualan PlantVillage+ di Machakos County, menjelaskan aplikasi ini dapat diunduh melalui Google Play Store. Perusahaan kini tengah mengembangkan perangkat lunak untuk lahan komersial.

“Perangkat lunak ini akan membantu petani mengelola aktivitas di lahan mereka, seperti mendeteksi titik infestasi, menentukan kapan harus memberi pupuk, dan mengidentifikasi kapan tanaman siap panen,” jelas Mutisya yang kini mendampingi lebih dari 400 petani.

Manajer merek PlantVillage+ Mercyline Tata mengungkapkan aplikasi ini telah tersedia di lebih dari 40 negara di dunia, dengan basis pengguna yang kuat di Afrika.

“Setiap bulan, ada sekitar 400 ribu hingga 500 ribu pengguna di platform kami,” ungkapnya.

Teknisi pembelajaran mesin (machine learning) di PlantVillage+ Raphael Ntonja menjelaskan proses pelatihan model AI perusahaan tersebut.

“Kami memotret berbagai tanaman dan penyakit, mengumpulkan data, serta melabeli penyakit pada daun sebelum melatih modelnya. Setelah pelatihan, kami mengevaluasi sendiri model itu sebelum menerapkannya untuk digunakan petani,” kata Ntonja.

Ia menegaskan AI memiliki potensi untuk mentransformasi pertanian dan memperkuat ketahanan pangan dengan mendesentralisasi keahlian. Ntonja mengatakan pengetahuan yang sebelumnya harus didapat petani dari seorang ahli kini dapat diakses melalui AI.

“Di mana pun seorang petani berada, termasuk di daerah paling terpencil, mereka bisa mendapatkan bantuan melalui telepon pintar. Ini juga akan mendukung pertanian cerdas iklim dengan membagikan laporan cuaca harian sehingga petani dapat merencanakan pengolahan lahan dengan lebih baik, serta melacak karbon," katanya.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |