Anak Sering Diabaikan karena Ponsel? Kenali Bahaya Technoference Bagi Keluarga

1 hour ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika anak-anak sulit lepas dari gawai, persoalannya ternyata tidak hanya terletak pada durasi screen time atau menatap layar. Kebiasaan digital orang tua juga turut memengaruhi kualitas interaksi dalam keluarga, yang menjadi bagian penting dalam perkembangan emosi dan kemampuan sosial anak.

Salah satu fenomena yang kini banyak terjadi adalah technoference. Psikolog dari Universitas Gadjah Mada Prof Tina Afiatin mengatakan technoference adalah gangguan atau hambatan dalam interaksi antara orang tua dan anak yang disebabkan oleh penggunaan gawai secara berlebihan. Kondisi ini terjadi ketika perhatian orang tua teralihkan oleh layar ponsel, komputer, atau televisi saat sedang bersama anak

Menurut dia, technoference bisa membuat anak merasa diabaikan saat ingin berbicara atau bermain. Pada akhirnya, hal itu bisa mengurangi kedekatan emosional anak dengan orang tua.

"Jadi persoalan penggunaan gawai bukan hanya berkaitan dengan perilaku anak, tetapi juga kebiasaan digital orang tua yang dapat memperkuat atau justru mengurangi kualitas hubungan dalam keluarga," kata Prof Tina dalam keterangan tertulis, dikutip pada Senin (3/8/2026).

Prof Tina menjelaskan anak terutama generasi Alpha sejak lahir hidup dalam dua lingkungan sekaligus, yakni dunia fisik dan dunia virtual. Dalam perspektif Neo-Ecological Theory, perubahan yang terjadi di ruang digital dapat langsung mempengaruhi kehidupan anak di dunia nyata, begitu pula sebaliknya.

Karena itu menurut dia, menjaga keamanan anak di ruang siber tidak cukup hanya mengandalkan aplikasi pemantau atau kontrol teknis. Yang lebih penting adalah membangun kualitas relasi antara orang tua dan anak.

"Kenapa penting? Karena ketika hubungan orang tua dengan anak hangat dan terbuka, anak pasti lebih mudah menerima pendampingan digital," kata dia.

Pendampingan digital orang tua dalam penggunaan gawai anak dinilai krusial. Penggunaan gawai tanpa pendampingan, kata Prof Tina, dapat memengaruhi perkembangan emosi, kemampuan anak mengelola perasaan, hingga cara membangun harga diri anak.

Selain itu, anak yang terbiasa mendapatkan validasi melalui jumlah likes atau komentar di media sosial, misalnya, berisiko menggantungkan penghargaan dirinya pada pengakuan digital. "Akhirnya alih-alih membangun regulasi emosi melalui interaksi langsung dengan keluarga dan lingkungan sosial, anak dapat lebih bergantung pada respons dari dunia maya," kata Prof Tina.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |