Ananda Salwa Salsabila
Sejarah | 2026-06-20 23:41:46
Ilustrasi Masjid Agung Demak ,Tonggak berdirinya kekerrajaan Islam Pertama,Sumber:Phinemo.com
Anak Raja yang Dibuang, Justru Jadi Pendiri Kesultanan Demak
Raden Patah, sosok yang dikenal sebagai pendiri Demak, sebenarnya punya kisah hidup yang cukup pelik. Ia diyakini merupakan putra Raja Majapahit terakhir, Prabu Brawijaya V, dari seorang selir keturunan Campa. Karena masalah internal di keraton, sang ibu yang sedang mengandung dirinya justru d koisingkirkan dari istana dan akhirnya membesarkan Raden Patah jauh dari lingkungan kerajaan. Ironisnya, justru dari posisi “buangan” inilah ia kemudian tumbuh dekat dengan dunia pesantren dan dakwah, berguru langsung kepada Sunan Ampel, salah satu tokoh Wali Songo paling berpengaruh.
Sebagian sejarawan, seperti yang dicatat dalam riwayat versi Tionghoa, bahkan menyebut nama kecilnya sebagai Jin Bun, yang berarti “orang kuat” sebuah indikasi bahwa garis keturunan Demak mungkin juga punya akar dari komunitas Muslim Tionghoa yang sudah lama menetap di pesisir utara Jawa. Setelah dewasa, dengan dukungan penuh para wali, Raden Patah resmi diangkat sebagai penguasa pertama Demak dengan gelar yang panjang dan sarat makna keagamaan, mencerminkan posisinya bukan cuma sebagai raja, tapi juga pemimpin spiritual.
Bukan Cuma Satu Sultan: Mengenal Deretan Penguasa Demak
Banyak orang hanya mengenal dua nama dari Demak: Raden Patah dan Sultan Trenggana. Padahal di antara keduanya ada sosok yang tak kalah menarik: Pati Unus, putra Raden Patah yang naik takhta setelah ayahnya wafat. Pati Unus dikenal sebagai panglima pemberani yang mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor karena keberaniannya menyeberangi laut untuk berperang. Pada 1521, ia memimpin sendiri serangan kedua ke Malaka untuk merebutnya kembali dari Portugis , sebuah misi yang berakhir tragis karena ia gugur dalam pertempuran tersebut.
Setelah Pati Unus gugur, barulah Sultan Trenggana naik takhta dan membawa Demak ke puncak kejayaannya. Berikut garis besar para penguasa Demak:
1. Raden Patah — pendiri sekaligus sultan pertama
2. Pati Unus (Pangeran Sabrang Lor) — sultan kedua, gugur dalam pertempuran melawan Portugis di Malaka
3. Sultan Trenggana — sultan ketiga, membawa Demak ke masa kejayaan
4. Sunan Prawata — putra Trenggana, naik takhta setelah ayahnya wafat
5. Arya Penangsang — periode penuh konflik yang berujung pada runtuhnya Demak sebagai kerajaan mandiri
Menariknya, pusat pemerintahan Demak sendiri ternyata tidak diam di satu tempat. Awalnya berpusat di Bintoro, kemudian sempat berpindah ke Demak Prawata, hingga akhirnya ke Jipang seiring memanasnya konflik perebutan kekuasaan di masa-masa akhir kerajaan ini.
Sisa Benteng A Famosa di Malaka, dibangun Portugis usai menaklukkan Kesultanan Malaka tahun 1511.Sumber:Wikimedia Commons
Fakta yang Jarang Dibahas: Demak dan Lahirnya Nama “Jakarta”
Ini salah satu fakta yang menurut saya paling jarang dikaitkan dengan Demak, padahal dampaknya luar biasa besar sampai sekarang. Pada tahun 1527, pasukan gabungan Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah, atas perintah langsung Sultan Trenggana, berhasil mengusir Portugis dari pelabuhan Sunda Kelapa. Sebagai penanda kemenangan itu, nama pelabuhan tersebut diganti menjadi Jayakarta, yang berarti “kemenangan yang sempurna”.
Nama itu kelak berubah lagi menjadi Batavia di masa kolonial Belanda, lalu menjadi Jakarta ibu kota Indonesia yang kita kenal sekarang. Jadi, secara tidak langsung, jejak Demak ada di balik nama ibu kota negara kita sendiri. Sayangnya fakta semenarik ini sering luput dari pembahasan, padahal ini contoh nyata bagaimana sejarah lokal ternyata punya sambungan panjang sampai ke kehidupan kita hari ini.
Konflik yang Meruntuhkan Kesultanan Demak: Bukan Perang dengan Asing, Tapi Perang Saudara
Hal yang menarik dan justru menurut saya cukup miris adalah bahwa Demak tidak runtuh karena kalah perang melawan bangsa asing. Ia runtuh karena pertumpahan darah di antara keluarganya sendiri. Setelah Sultan Trenggana wafat pada 1546, takhta jatuh ke tangan Sunan Prawata. Namun kekuasaannya tidak berlangsung lama karena ia dibunuh oleh sepupunya sendiri, Arya Penangsang, yang merasa lebih berhak atas takhta Demak.
Periode kekuasaan Arya Penangsang inilah yang penuh gejolak dan akhirnya memicu perlawanan dari pihak lain, termasuk Jaka Tingkir yang kelak mendirikan Kesultanan Pajang. Setelah Arya Penangsang kalah, riwayat Demak sebagai kerajaan yang berdiri mandiri pun berakhir, dan kekuasaan politik-Islam di Jawa berpindah ke generasi penerusnya.
Kalau dipikir ulang, ironisnya kerajaan yang dulu begitu gigih melawan ambisi kolonial Portugis di lautan, justru runtuh oleh sesuatu yang jauh lebih sederhana: ambisi kekuasaan di antara keluarganya sendiri.
Jejak Kesultanan Demak yang Masih Bisa Disentuh Sampai Sekarang
Bagian dalam Masjid Agung Demak,dengan tiang-tiang kayu khas Jawa ,Sumber: Wikimedia Commons
Walau usianya singkat, jejak fisik dan simbolik Demak masih bisa kita temui hari ini, di antaranya:
• Masjid Agung Demak, yang hingga kini masih berdiri dan menjadi salah satu situs sejarah Islam paling penting di Jawa.
• Nama Jayakarta/Jakarta, warisan tidak langsung dari kemenangan pasukan Demak-Cirebon atas Portugis.
• Pola hubungan ulama dan penguasa, yang kelak diadopsi oleh kesultanan-kesultanan penerusnya seperti Pajang, Mataram, hingga Cirebon dan Banten.
Catatan Penutup: Pelajaran dari Kesultanan Demak
Menulis ulang sejarah Demak membuat saya sadar satu hal: kerajaan ini sebenarnya jauh lebih kompleks dari sekadar “kerajaan Islam pertama di Jawa” yang biasa kita baca sekilas di buku pelajaran. Ada drama keluarga, ada keberanian seorang panglima muda yang gugur di medan perang, ada jejak yang ternyata menyambung sampai ke nama ibu kota negara kita sendiri. Sejarah lokal seperti ini sering dianggap biasa saja, padahal kalau digali lebih dalam, ceritanya tidak kalah menarik dari kisah kerajaan-kerajaan besar dunia mana pun.
Ditulis oleh: Ananda Salwa Salsabila, Mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Adab dan Humaniora.
Artikel ini disusun dari berbagai sumber catatan sejarah mengenai Kesultanan Demak, termasuk silsilah raja-raja Demak, arsip Pemerintah Kabupaten Demak, serta referensi sejarah Indonesia seperti karya Slamet Muljana, “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara” (2005).
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

14 hours ago
4

















































