Renaya Resanola
Kisah | 2026-06-21 02:26:36
gambar saya ketika berangkat untuk merantau melanjutkan pendidikan.
Ada banyak alasan orang memilih merantau. Ada yang karena kampus impiannya memang ada di kota lain. Ada yang ingin mencari pengalaman baru. Tapi alasan saya sedikit berbeda. Saya merantau bukan hanya untuk mengejar pendidikan, tapi juga untuk lari dari rumah yang isinya pertengkaran demi pertengkaran.
Saya tumbuh di rumah yang ribut. Mama dan Papa sering bertengkar, kadang karena hal kecil, kadang karena masalah yang sebenarnya sudah lama dipendam dan akhirnya meledak begitu saja. Saya masih ingat bagaimana saya dan adik saya sering mengunci diri di kamar, menutup telinga dengan bantal, berharap suara itu cepat berhenti. Rumah yang seharusnya jadi tempat paling aman, justru jadi tempat yang paling ingin saya tinggalkan.
Pendidikan sebagai Pintu Keluar
Banyak orang berpikir anak yang besar di tengah konflik keluarga akan ikut hancur. Tapi ada juga yang justru menemukan kekuatan dari situ. Saya termasuk yang kedua. Bagi saya, pendidikan bukan cuma soal cita-cita, tapi juga soal jalan keluar. Saya sadar, satu-satunya cara untuk punya hidup yang berbeda dari rumah saya adalah dengan sekolah setinggi-tingginya, lalu pergi sejauh mungkin, setidaknya untuk sementara.
Dalam sosiologi, keluarga disebut sebagai agen sosialisasi primer—tempat pertama seseorang belajar nilai, norma, dan cara berinteraksi dengan dunia. Idealnya, keluarga adalah fondasi yang membentuk seseorang menjadi pribadi yang sehat secara emosional. Tapi kenyataannya, tidak semua orang seberuntung itu. Ada yang belajar arti kasih sayang dari rumahnya. Ada juga yang justru belajar tentang rasa tidak aman, tentang bagaimana rasanya selalu waswas, tentang bagaimana caranya jadi "penengah" di usia yang masih sangat muda.
Ketika akhirnya saya diterima kuliah di kota lain, ada rasa lega yang sulit dijelaskan. Bukan karena saya tidak sayang keluarga, tapi karena saya butuh jarak. Saya butuh ruang untuk bernapas, untuk berpikir jernih, untuk akhirnya bisa fokus membangun diri sendiri tanpa harus terus-menerus menahan napas setiap kali mendengar pintu dibanting atau suara yang meninggi dari ruang tengah.
Kenapa Memilih Jadi Guru Sosiologi
Pilihan saya untuk masuk jurusan Pendidikan Sosiologi bukan kebetulan. Saya ingin jadi guru, dan saya ingin mengajarkan sosiologi, karena dari pelajaran inilah saya akhirnya mengerti bahwa apa yang terjadi di rumah saya bukan aib yang harus disembunyikan sendirian, tapi fenomena sosial yang juga dialami banyak keluarga lain.
Sosiologi mengajarkan saya bahwa konflik rumah tangga sering kali bukan murni soal "siapa yang salah", tapi juga berkaitan dengan tekanan ekonomi, pola asuh yang diwariskan turun-temurun, hingga kurangnya ruang untuk masyarakat membicarakan kesehatan mental secara terbuka. Memahami ini tidak membuat luka saya hilang begitu saja, tapi setidaknya membuat saya tidak lagi menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi di rumah.
Dari situ saya bermimpi, suatu hari nanti saya ingin berdiri di depan kelas, mengajar anak-anak SMA tentang sosiologi, bukan sekadar untuk mengejar nilai ujian, tapi supaya mereka punya cara pandang yang lebih luas terhadap kehidupan mereka sendiri. Saya ingin jadi guru yang membuat murid-muridnya sadar bahwa apa yang mereka alami di rumah, di lingkungan, atau di pertemanan, semua punya penjelasan sosial yang bisa dipelajari, bukan sekadar nasib yang harus diterima diam-diam.
Rantau yang Mengajarkan Kemandirian dan Penyembuhan
Hidup merantau bukan berarti semua masalah selesai. Saya tetap harus belajar mengatur uang bulanan sendiri, belajar masak walau awalnya sering gosong, dan belajar menghadapi rindu rumah yang datang tiba-tiba di waktu yang tidak terduga. Tapi yang berbeda, di kota rantau ini saya juga belajar menyembuhkan diri secara perlahan.
Saya mulai terbiasa menulis jurnal kecil setiap malam, sekadar untuk mengeluarkan apa yang saya rasakan. Saya juga menemukan teman-teman kos yang ternyata punya cerita keluarga yang tidak jauh berbeda. Kami saling cerita, saling dengar, dan entah kenapa itu terasa lebih melegakan dibanding harus memendam semuanya sendirian seperti dulu.
Saya juga belajar bahwa jarak dari rumah tidak selalu berarti memutus hubungan. Justru dari jauh, saya bisa melihat Mama dan Papa bukan hanya sebagai orang tua yang sering bertengkar, tapi juga sebagai manusia biasa yang punya luka dan keterbatasannya masing-masing. Perlahan, hubungan kami pun mulai membaik, meski tentu tidak instan.
Merantau untuk Pulang dengan Cara yang Berbeda
Saya percaya, perjalanan pendidikan saya bukan hanya soal mengejar gelar atau cita-cita jadi guru sosiologi semata. Ini juga perjalanan menyembuhkan diri dari luka masa kecil, sambil tetap berusaha memahami bahwa keluarga saya, dengan segala kekurangannya, tetap layak dicintai.
Mungkin nanti, ketika saya sudah benar-benar jadi guru di depan kelas, saya akan bercerita pada murid-murid saya bahwa rumah yang penuh konflik bukan akhir dari segalanya. Bahwa pendidikan bisa jadi jalan keluar, sekaligus jalan untuk akhirnya bisa pulang dengan cara pandang yang baru dan hati yang lebih lapang.
Bagi siapa pun di luar sana yang merantau bukan hanya karena ingin maju, tapi juga karena ingin sejenak menjauh dari rumah yang penuh luka: kalian tidak salah. Terkadang, jarak justru yang membantu kita menyembuhkan diri, sebelum akhirnya kita siap untuk kembali, dengan versi diri yang lebih kuat.
Penulis oleh saya Renaya Resanola mahasiswa Universitas Negeri Jakarta program studi Pendidikan Sosiologi yang sedang menempuh studi di perantauan, menulis dari pengalaman pribadi dan refleksi atas perjalanan keluarganya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

14 hours ago
4

















































