Wahyuddin Luthfi Abdullah
Agama | 2026-06-22 07:42:21
Kita sering menganggap perubahan sebagai sesuatu yang pasti baik. Padahal sejarah manusia menunjukkan sebaliknya. Tidak sedikit orang yang berubah, tetapi justru kehilangan dirinya. Tidak sedikit pula masyarakat yang maju secara material, tetapi mengalami kemunduran dalam integritas dan moralitas.
Seseorang dapat memperoleh jabatan yang lebih tinggi, tetapi kehilangan ketenangan hidupnya. Ia dapat memiliki penghasilan yang lebih besar, tetapi semakin jauh dari keluarganya. Bahkan kemajuan teknologi yang luar biasa pun tidak selalu diikuti oleh kemajuan akhlak yang sepadan.
Masalahnya, kita terlalu sering mengukur keberhasilan dari kecepatan bergerak, bukan dari ketepatan arah. Kita sibuk mengejar berbagai target dan pencapaian, tetapi jarang berhenti untuk bertanya: ke mana semua langkah itu membawa kita?
Padahal orang yang tersesat tidak membutuhkan kendaraan yang lebih cepat. Ia membutuhkan petunjuk arah.
Karena itulah hijrah menjadi salah satu simbol paling penting dalam Islam. Ketika para sahabat menentukan awal kalender Islam, mereka tidak memilih tahun kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, tidak pula tahun pertama turunnya wahyu. Mereka justru memilih peristiwa hijrah sebagai titik awal penanggalan umat Islam.
Pilihan tersebut bukanlah tanpa alasan. Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik dari Makkah ke Yastrib. Yang membuatnya istimewa adalah karena ia merupakan perubahan yang memiliki tujuan yang jelas: menuju ridha Allah dan tegaknya nilai-nilai yang diperintahkan-Nya.
Dengan demikian, hijrah mengajarkan bahwa yang paling penting dalam sebuah perjalanan bukanlah geraknya, melainkan arahnya.
Prinsip ini sejalan dengan firman Allah yang memerintahkan, "Maka larilah menuju Allah" (QS. Adz-Dzariyat: 50).
Menariknya, al-Qur'an tidak sekadar memerintahkan manusia untuk bergerak, tetapi juga menunjukkan ke mana arah gerak itu harus ditujukan. Seseorang dapat berlari sangat cepat, tetapi kecepatan tidak akan bernilai jika ia bergerak ke arah yang salah. Karena itu, yang dibutuhkan manusia bukan hanya kemampuan untuk bergerak, melainkan kemampuan untuk memastikan bahwa setiap langkahnya mengarah kepada Allah ﷻ.
Pesan ini terasa sangat relevan di tengah kehidupan modern yang memuja kecepatan. Kita didorong untuk terus bergerak, berkembang, dan bertambah. Akibatnya, banyak orang sibuk mempercepat langkah tanpa sempat memeriksa arah.
Ironisnya, semakin banyak pilihan hidup tersedia, semakin banyak pula orang yang merasa kehilangan arah. Mereka tahu apa yang ingin dicapai, tetapi tidak selalu tahu untuk apa semua pencapaian itu dikejar.
Di sinilah letak perbedaan antara perubahan dan hijrah. Perubahan hanya berbicara tentang perpindahan dari satu keadaan ke keadaan lain. Adapun hijrah berbicara tentang perpindahan menuju keadaan yang lebih diridhai Allah ﷻ.
Seseorang mungkin berhasil mengubah banyak hal dalam hidupnya, tetapi gagal mengubah hal yang paling penting: arah hidupnya.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang ia tuju." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa nilai sebuah perpindahan tidak ditentukan oleh geraknya semata, melainkan oleh tujuan yang melatarbelakanginya. Dua orang dapat melakukan perjalanan yang sama, tetapi memperoleh nilai yang berbeda karena arah yang mereka tuju berbeda.
Namun hijrah tidak hanya mengoreksi cara kita menentukan arah. Ia juga mengoreksi cara kita mengukur keberhasilan.
Masyarakat modern cenderung menjadikan pertambahan sebagai ukuran kesuksesan. Semakin tinggi pendapatan dianggap semakin berhasil. Semakin besar aset dianggap semakin maju. Semakin banyak pengikut dianggap semakin hebat.
Hampir semua ukuran keberhasilan hari ini bertumpu pada satu kata: bertambah.
Islam tidak menolak pertambahan. Namun Islam mengajarkan bahwa yang lebih penting adalah apa yang bertambah.
Dalam khazanah Islam dikenal konsep barakah. Para ulama menjelaskan keberkahan sebagai ziyaadatul khair, yaitu bertambahnya kebaikan. Dengan demikian, ukuran keberhasilan seorang muslim bukan sekadar pertambahan jumlah, melainkan pertambahan manfaat dan kebaikan.
Harta yang berkah tidak harus menjadi harta yang paling banyak. Waktu yang berkah tidak harus menjadi waktu yang paling panjang. Bahkan usia yang berkah tidak harus menjadi usia yang paling lama. Yang bertambah bukan semata-mata angka, melainkan kebaikan yang lahir darinya.
Sejarah Islam memberikan banyak contoh tentang hal ini. Imam an-Nawawi wafat pada usia yang relatif muda, sekitar 45 tahun. Namun dalam rentang usia yang singkat tersebut, beliau meninggalkan karya-karya yang hingga hari ini terus dipelajari oleh umat Islam di berbagai belahan dunia, seperti Riyadhus Shalihin, Al-Arba'in An-Nawawiyah, dan Al-Majmu'. Usianya tidak panjang dibandingkan banyak orang lain, tetapi keberkahan ilmunya melampaui batas zamannya.
Contoh ini menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan dalam Islam tidak selalu ditentukan oleh panjangnya usia, melainkan oleh banyaknya kebaikan yang Allah hadirkan melalui usia tersebut.
Yang dicari seorang muslim bukan sekadar umur yang panjang, harta yang banyak, atau capaian yang besar, melainkan kehidupan yang diberkahi sehingga melahirkan kebaikan yang terus mengalir bahkan setelah ia tiada.
Di sinilah arah dan keberkahan saling bertemu. Hijrah mengajarkan ke mana kita harus berjalan, sedangkan barakah mengajarkan apa yang seharusnya kita cari dalam perjalanan itu.
Karena itu, memasuki tahun baru Hijriah, mungkin yang perlu kita evaluasi bukan hanya seberapa jauh kita telah melangkah. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa langkah itu menuju arah yang benar dan meninggalkan kebaikan yang terus bertambah karenanya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

2 hours ago
2










































