Manajemen Stres untuk Mencegah Gangguan Jiwa

14 hours ago 3

Image Tonny Rivani

Info Sehat | 2026-06-20 22:14:49

Foto DP3AP2KB menggelar sosialisasi manajemen stres dan Dukungan Psikologi Awal di Puspemkot Tangsel.

OPINI - Persoalan kesehatan mental kini tidak lagi dapat dipandang sebagai isu pinggiran. Data yang disampaikan Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, bahwa sekitar 28 juta penduduk Indonesia mengalami masalah kejiwaan menjadi alarm serius bagi semua pihak. Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan psikologis telah menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang memerlukan penanganan bersama, mulai dari keluarga, lingkungan sosial, hingga pemerintah daerah.

Dalam konteks ini, langkah yang dilakukan DP3AP2KB Kota Tangerang Selatan patut diapresiasi sebagai contoh nyata bagaimana pemerintah daerah mulai membangun sistem pencegahan kesehatan mental berbasis masyarakat. Melalui pelatihan Dukungan Psikologi Awal (DPA), perempuan, terutama ibu rumah tangga dan anggota majelis taklim, dipersiapkan menjadi garda terdepan dalam mendeteksi dan merespons masalah psikologis di lingkungan sekitar.

Langkah ini sangat relevan karena keluarga merupakan ruang pertama tempat seseorang mengalami tekanan, konflik, maupun proses pemulihan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial yang kuat dari keluarga dan lingkungan terdekat dapat mengurangi risiko depresi, kecemasan, bahkan perilaku kekerasan.

Psikolog Amerika Serikat, Martin E. P. Seligman, menyebutkan bahwa ketahanan psikologis (resilience) seseorang sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan sosial yang dimilikinya. Individu yang memiliki dukungan emosional dari keluarga dan komunitas cenderung lebih mampu menghadapi tekanan hidup dibandingkan mereka yang menghadapi masalah secara sendiri.

Apa yang dilakukan DP3AP2KB Tangsel sejalan dengan pemikiran tersebut. Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak, Irma Safitri, menegaskan bahwa kemampuan mengelola stres memiliki hubungan erat dengan pencegahan kekerasan.

Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga maupun kekerasan terhadap anak dipicu oleh ketidakmampuan seseorang mengendalikan emosi saat menghadapi tekanan ekonomi, konflik keluarga, maupun persoalan sosial lainnya. Dengan kata lain, kemampuan mengelola stres bukan sekadar keterampilan pribadi, melainkan bagian dari strategi perlindungan keluarga.

Pendekatan yang diajarkan melalui Dukungan Psikologi Awal juga cukup sederhana namun efektif. Para peserta dibekali tiga prinsip utama, yakni melihat, mendengar, dan menghubungkan.

Pertama, melihat tanda-tanda seseorang yang sedang mengalami tekanan psikologis. Kedua, mendengar tanpa menghakimi sehingga individu yang mengalami masalah merasa aman untuk bercerita. Ketiga, menghubungkan mereka dengan layanan profesional apabila persoalan yang dihadapi membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Konsep ini sejalan dengan pedoman World Health Organization yang menekankan pentingnya dukungan psikososial berbasis komunitas sebagai lapisan awal dalam menjaga kesehatan mental masyarakat. Tidak semua orang yang mengalami tekanan psikologis membutuhkan terapi intensif, tetapi hampir semua membutuhkan seseorang yang mau mendengar dan memahami kondisi mereka.

Sekretaris DP3AP2KB Tangsel, Enji Seppraliana, mengingatkan bahwa empati harus disertai kemampuan menjaga diri. Pesan ini penting karena pendamping yang membantu orang lain juga berisiko mengalami kelelahan emosional apabila tidak memiliki batasan yang sehat.

Dalam kajian psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai compassion fatigue atau kelelahan akibat empati berlebihan. Karena itu, para relawan atau pendamping perlu memahami bahwa tugas mereka bukan menyelesaikan seluruh masalah korban, melainkan menjadi jembatan menuju bantuan yang tepat.

Program yang dijalankan di Tangerang Selatan juga memperlihatkan bahwa isu kesehatan mental tidak berdiri sendiri. Kesehatan mental berkaitan erat dengan perlindungan perempuan dan anak, pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, hingga perlindungan dari kekerasan seksual. Seseorang yang hidup dalam lingkungan penuh tekanan dan kekerasan memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan psikologis.

Karena itu, pelatihan ini menjadi bagian dari implementasi berbagai regulasi nasional, mulai dari UU Perlindungan Anak, UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, hingga UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Pencegahan tidak cukup dilakukan melalui penegakan hukum setelah peristiwa terjadi, tetapi harus dimulai dari penguatan kapasitas masyarakat untuk mengenali dan merespons tanda-tanda masalah sejak dini.

Komitmen tersebut juga diperkuat oleh Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, yang mendorong kolaborasi antara pemerintah, keluarga, dunia pendidikan, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat dalam melindungi perempuan dan anak dari berbagai risiko sosial, termasuk ancaman yang muncul di ruang digital.

Foto Peserta Sosialisasi manajemen stres dan Dukungan Psikologi Awal.

Pendekatan kolaboratif menjadi kebutuhan mendesak pada era saat ini. Media sosial, tekanan ekonomi, perubahan pola interaksi sosial, hingga meningkatnya kasus perundungan daring telah menciptakan sumber stres baru yang tidak selalu mudah dikenali. Karena itu, ketahanan keluarga menjadi fondasi utama dalam menjaga kesehatan mental masyarakat.

Tangerang Selatan memberikan contoh bahwa upaya menjaga kesehatan mental tidak harus selalu dimulai dari rumah sakit atau klinik psikologi. Langkah sederhana berupa edukasi, penguatan empati, dan pelatihan bagi perempuan di tingkat RT/RW justru dapat menjadi benteng pertama dalam mencegah krisis kesehatan mental yang lebih serius.

Ketika ibu, tetangga, kader masyarakat, dan tokoh komunitas memiliki kemampuan mengenali tanda-tanda tekanan psikologis, masyarakat akan lebih cepat mendapatkan bantuan. Pada akhirnya, kesehatan mental bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, melainkan tanggung jawab bersama untuk menciptakan lingkungan yang aman, peduli, dan manusiawi.

Di tengah tingginya angka masalah kejiwaan di Indonesia, program seperti yang dilakukan Tangerang Selatan layak menjadi inspirasi bagi kabupaten dan kota lain. Sebab, menjaga kesehatan mental masyarakat sesungguhnya dimulai dari hal paling dekat: keluarga yang mampu mengelola stres dan lingkungan yang mau saling mendengar.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |