AETI Dorong Pembentukan Industri Offtaker Domestik untuk Perkuat Hilirisasi Timah

3 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI) mendorong pembentukan industri offtaker domestik guna memperkuat struktur hilirisasi timah nasional. Langkah ini dinilai krusial agar produksi timah dalam negeri tidak terus bergantung pada pasar ekspor.

AETI mencatat konsumsi timah di dalam negeri baru berkisar 5 hingga 7 persen dari total produksi nasional. Kondisi ini menunjukkan daya serap pasar domestik masih sangat terbatas di tengah kapasitas produksi yang besar serta reputasi produk Indonesia yang kuat di pasar global.

Ketua Umum AETI Harwendro Adityo Dewanto mengatakan lemahnya industri offtaker membuat rantai pasok hilir belum terbentuk secara utuh. “Tanpa basis industri hilir yang kuat, pengembangan produk turunan timah di dalam negeri menjadi kurang kompetitif dibandingkan mengekspor bahan setengah jadi,” kata Harwendro, di Jakarta, dikutip Selasa (3/3/2026).

Ia menjelaskan, agenda hilirisasi mineral belum diikuti pertumbuhan ekosistem industri hilir yang memadai. Sektor manufaktur pengguna timah sebagai bahan baku utama masih belum berkembang optimal.

Minimnya investasi pada industri produk turunan juga berkaitan dengan belum tumbuhnya industri perantara seperti elektronik, kimia, solder, plating, serta berbagai komponen manufaktur yang membutuhkan timah secara konsisten. Situasi ini membuat nilai tambah lebih banyak tercipta di luar negeri.

Di sisi lain, Harwendro mengakui posisi timah Indonesia sangat kuat di pasar global. “Brand timah Indonesia itu nomor satu di dunia. Paling banyak dicari orang karena kita hampir paling murni,” ujarnya.

Tingkat kemurnian produk Indonesia yang mencapai 99,9 persen menjadikannya salah satu timah paling dicari di pasar internasional. Reputasi tersebut menopang ekspor nasional selama ini.

Ketergantungan tinggi terhadap pasar global tetap menyimpan risiko. Fluktuasi harga internasional dan dinamika geopolitik dapat langsung memengaruhi kinerja industri timah nasional ketika pasar domestik belum mampu menjadi penyangga.

Dalam konteks tersebut, AETI menyatakan komitmennya mendukung agenda hilirisasi sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden. Organisasi ini menilai diperlukan desain kebijakan yang lebih komprehensif agar proses hilirisasi tidak berhenti pada produksi bahan antara atau tier kedua.

“Ini menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menciptakan industri-industri turunan baru dari timah maupun nikel agar hasilnya maksimal bagi negara. Harapannya tidak setop di tier kedua saja, tapi sampai menjadi barang jadi yang bisa langsung dikonsumsi,” ujar Harwendro.

Menurut dia, tantangan hilirisasi timah bukan terletak pada kapasitas produksi maupun kualitas bahan baku. Persoalan utama berada pada kesiapan ekosistem industri untuk menyerap komoditas tersebut secara berkelanjutan.

Penguatan offtaker domestik menjadi kunci agar nilai tambah tidak terus mengalir ke pasar global. Hilirisasi timah memerlukan strategi terintegrasi yang mendorong pertumbuhan industri turunan, memperluas permintaan dalam negeri, serta membangun rantai pasok nasional yang solid.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |