
Oleh : Prof Ema Utami (Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Amikom Yogyakarta)
REPUBLIKA.CO.ID, Beranda media sosial tetiba penuh dengan gambar dan video asap hitam mengepul di atas kota, bangunan runtuh, dan roket beterbangan. Perang antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat kembali terjadi. Diawali dengan pengeboman pada rumah sekaligus kantor pemimpin tertinggi Iran, Imam Khamenei yang kemudian memicu pembalasan dari Iran. Perang yang melibatkan negara dengan kekuatan besar di kawasan yang begitu strategis getarannya merambat melampaui batas wilayah.
Para pengamat menyebut eskalasi ini berpotensi menyeret dunia pada krisis global yang multidimensi, yakni krisis energi karena Selat Hormuz yang terancam, krisis pangan karena rantai distribusi yang terganggu, hingga krisis kepercayaan pada sistem multilateral yang seharusnya menjadi penjaga perdamaian.
Selat Hormuz, yang dilewati hampir sepertiga pasokan minyak dunia, kini kembali menjadi titik tegangan yang menentukan. Bagi negara-negara berkembang, seperti Indonesia, dampaknya terasa hampir seketika. PT Chandra Asri Pacific Tbk, perusahaan petrokimia yang bergantung besar dengan produksi dari kawasan konflik mengumumkan force majeure setelah gangguan pengiriman bahan baku lewat Selat Hormuz akibat pecahnya konflik ini.
Tampak begitu mudahnya sebuah negara dibawa ke medan konflik oleh negara lain menjadi sebuah pelajaran besar bagi semua bangsa. Kemampuan untuk tetap berdiri dengan kepala tegak di tengah pusaran konflik global menjadi sebuah keniscayaan.
Perang terbaru ini memperlihatkan bahwa ketahanan suatu bangsa sangat ditentukan oleh seberapa kuat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologinya, seberapa dalam ekosistem riset dan inovasinya, serta seberapa siap sumber daya manusianya menghadapi ancaman yang terus berevolusi.
Pemerintah Indonesia tampaknya memahami hal ini. Dari delapan prioritas utama pembangunan nasional yang ditetapkan, masalah keamanan dan pertahanan termasuk di dalamnya. Sebuah langkah yang relevansinya kini terasa jauh lebih nyata ketika menyaksikan apa yang terjadi di tanah Persia.
Sebagai akademisi, pertanyaannya kemudian mengarah ke dalam ruang-ruang akademik. Apa peran dunia pendidikan tinggi dalam konteks yang sedemikian genting ini? Jawabannya, tentu saja perlu jauh melampaui retorika. Di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang berkembang dengan kecepatan yang nyaris melampaui perkiraan, kampus-kampus seharusnya mampu melampaui fungsinya sebagai tempat transmisi pengetahuan semata. Perguruan Tinggi adalah laboratorium peradaban, tempat di mana solusi-solusi yang belum terpikirkan oleh pengambil kebijakan dirumuskan, diuji, dan disiapkan untuk diterapkan.
Dalam konteks inilah, saya kerap merefleksikan apa yang terjadi di lingkungan mahasiswa Magister dan Doktoral, seperti di Universitas Amikom Yogyakarta. Riset-riset yang dikerjakan di sana, mulai dari pemrosesan bahasa alami, keamanan data, hingga sistem kecerdasan buatan, merupakan balok-balok dari fondasi ketahanan bangsa. Ketika melihat kemampuan Iran meluncurkan beragam jenis roket di tengah berbagai embargo yang menghimpitnya, tampak sebuah paradoks yang layak kita renungkan.
Negara yang sedang diluluhlantakkan oleh serangan udara itu justru tercatat sebagai negara dengan proporsi perempuan di bidang STEM tertinggi di dunia, di mana hampir 70 persen lulusan universitas di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika adalah perempuan, melampaui Amerika Serikat sekalipun.
Lebih dari 130 perempuan Iran diakui sebagai peneliti dengan karya paling banyak dikutip di dunia, dalam bidang-bidang seperti kecerdasan buatan, teknik, dan kedokteran. Bahkan 58 persen mahasiswa program Doktoral di Iran adalah perempuan. Para akademisi menyebutnya sebagai paradoks STEM: tekanan eksternal yang bertubi-tubi ternyata tidak memadamkan semangat perempuan Iran untuk menuntut ilmu dan berkontribusi pada sains. Sebaliknya, ia justru menyalakan api yang lebih besar.
Tampak jelas bahwa perang Iran melawan Israel dan AS, dengan segala kompleksitas geopolitiknya, sejatinya mengajukan satu pertanyaan mendasar kepada setiap bangsa yang menyaksikannya: Sudahkah mereka mempersiapkan diri? Bagi Indonesia, jawabannya tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada negara saja. Ia harus dijawab bersama, oleh pemerintah melalui kebijakannya, oleh institusi riset melalui produktivitasnya, dan oleh dosen serta mahasiswa melalui kerja intelektual mereka sehari-hari.
Empat hari lagi, dunia akan memperingati Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret 2026. Paradoks STEM Iran kiranya menjadi hadiah renungan yang paling relevan untuk momen itu: Bahwa perempuan, di mana pun ia berada dan betapapun beratnya tekanan yang menghimpit, adalah kekuatan sains yang tidak bisa diabaikan.
Allah SWT telah mengingatkan kita jauh sebelumnya dalam firman-Nya: "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang, yang dengan persiapan itu kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya." (QS Al-Anfal: 60). Di era kecerdasan buatan, kekuatan yang diperintahkan Allah untuk dipersiapkan itu mencakup, bahkan mungkin terutama, kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan perempuan adalah bagian yang tak terpisahkan dari kekuatan itu. Wallāhu a‘lam.

2 hours ago
3
















































