Oleh: Fransiscus X Wawolang, Sekjen South China Sea Council dan Staf Ahli Komisi XI DPR RI
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perang modern sering terlihat seperti pertarungan teknologi. Tetapi dalam banyak kasus, perang justru dimenangkan oleh siapa yang lebih lama mampu bernapas.
Pada 28 Februari 2026, Timur Tengah kembali memanas ketika Israel melancarkan serangan udara besar ke Iran melalui operasi yang dikenal sebagai Operation Roaring Lion. Serangan ini menargetkan fasilitas militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara dan infrastruktur yang berkaitan dengan program misilnya.
Amerika Serikat kemudian ikut terlibat melalui operasi Epic Fury untuk menghancurkan kemampuan misil Iran dan membatasi potensi nuklirnya. Iran membalas dengan serangan rudal balistik dan drone melalui operasi True Promise IV yang diarahkan ke Israel serta pangkalan militer Amerika di kawasan.
Namun di balik semua dinamika militer tersebut muncul satu pertanyaan yang lebih mendasar daripada sekadar siapa yang memenangkan pertempuran hari ini. Berapa lama perang ini dapat berlangsung sebelum salah satu pihak mulai kehabisan napas?
Perang misil modern pada dasarnya adalah perang ekonomi. Setiap rudal yang ditembakkan memiliki harga. Setiap interceptor yang digunakan untuk menembaknya juga memiliki biaya yang tidak kecil. Semakin lama konflik berlangsung, perang tidak lagi hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi oleh kemampuan industri dan logistik.
Untuk memahami logika ini, pengalaman konflik Iran–Israel sebelumnya memberikan gambaran penting. Pada Juni 2025, dunia menyaksikan perang Iran–Israel–Amerika Serikat yang berlangsung sekitar dua belas hari. Konflik yang sering disebut sebagai Twelve-Day War itu memberikan data nyata mengenai biaya perang misil modern.
Menurut sejumlah laporan lembaga keamanan internasional, Iran menghabiskan sekitar 1,1 miliar hingga 6,6 miliar dolar AS untuk serangan rudal dan drone selama konflik tersebut. Di sisi lain, Israel dan Amerika Serikat diperkirakan mengeluarkan sekitar 1,48 miliar hingga 1,58 miliar dolar AS hanya untuk biaya interceptor pertahanan udara. Angka ini bahkan belum memasukkan kerusakan infrastruktur dan gangguan ekonomi domestik.
Data tersebut memperlihatkan satu pola penting dalam peperangan modern. Biaya untuk menembak jatuh rudal sering kali jauh lebih mahal daripada biaya untuk meluncurkannya.
Banyak rudal balistik Iran diperkirakan memiliki biaya produksi sekitar 200 ribu hingga 500 ribu dolar AS per unit. Sebaliknya, sistem pencegat yang digunakan Israel dan Amerika Serikat jauh lebih mahal. Interceptor Arrow-3 diperkirakan menelan biaya sekitar 2 juta hingga 3 juta dolar AS per unit. Patriot PAC-3 dapat mencapai sekitar 4 juta dolar AS, sementara interceptor THAAD bahkan dapat melampaui 12 juta dolar AS.
Ketimpangan biaya ini menciptakan fenomena yang dalam studi militer dikenal sebagai cost-exchange ratio. Dalam banyak kasus, menembak jatuh satu rudal justru membutuhkan biaya berkali lipat dibandingkan harga rudal yang dicegat.
Berdasarkan pengalaman perang dua belas hari tersebut, kita dapat membuat simulasi sederhana untuk memahami bagaimana konflik akan berkembang jika berlangsung lebih lama. Misalnya Iran meluncurkan sekitar 100 rudal per hari. Dalam praktik pertahanan udara modern, satu target biasanya ditembak dengan dua interceptor untuk meningkatkan peluang keberhasilan. Artinya untuk menangkis 100 rudal dibutuhkan sekitar 200 interceptor setiap hari.
Jika konflik berlangsung selama 30 hari, maka total interceptor yang harus digunakan mencapai sekitar 6.000 unit. Dengan asumsi komposisi pertahanan udara menggunakan campuran realistis sekitar 80 persen Arrow dan 20 persen Patriot, biaya pertahanan udara dapat mencapai sekitar 560 juta dolar AS per hari. Dalam satu bulan perang, total biaya tersebut dapat mendekati 17 miliar dolar AS.
Sebaliknya, jika biaya rata-rata rudal Iran berada di sekitar 500 ribu dolar AS per unit, maka serangan 100 rudal per hari hanya membutuhkan sekitar 50 juta dolar AS per hari. Dalam 30 hari perang, total biaya serangan Iran berada di kisaran 1,5 miliar dolar AS.
Perbandingan ini menunjukkan perbedaan yang mencolok. Dalam simulasi tersebut, pihak yang bertahan mengeluarkan biaya lebih dari sepuluh kali lipat dibanding pihak yang menyerang.
Namun biaya bukan satu-satunya faktor yang menentukan. Variabel yang lebih kritis justru adalah stok interceptor yang tersedia.
Jumlah interceptor global sebenarnya jauh lebih terbatas daripada yang dibayangkan publik. Sistem THAAD milik Amerika Serikat misalnya diperkirakan hanya memiliki sekitar enam ratus lebih interceptor yang tersebar di berbagai pangkalan militer dunia. Dalam konflik Iran sebelumnya yang berlangsung dua belas hari, sekitar seratus lima puluh interceptor THAAD digunakan untuk membantu mempertahankan Israel.
Masalahnya, interceptor tidak dapat diproduksi dengan cepat. Rantai pasok industri pertahanan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menggantikan stok yang habis. Produksi Patriot PAC-3 saat ini bahkan hanya berada di kisaran ratusan unit per tahun, meskipun Amerika Serikat berupaya meningkatkan kapasitasnya secara signifikan.
Dalam perang misil modern, konsumsi interceptor dapat jauh melampaui kecepatan produksi. Satu hari serangan balistik besar dapat menghabiskan puluhan hingga ratusan interceptor sekaligus.
Inilah yang oleh sejumlah analis disebut sebagai munculnya missile economy. Dalam paradigma ini, perang tidak lagi dimenangkan oleh negara yang memiliki senjata paling mahal, tetapi oleh negara yang mampu memproduksi senjata murah dalam jumlah besar.
Iran tampaknya memahami logika tersebut. Dengan memproduksi rudal dan drone secara massal dengan biaya relatif rendah, Teheran mencoba menciptakan tekanan logistik terhadap sistem pertahanan udara lawannya. Serangan tidak harus selalu menghancurkan target strategis untuk menghasilkan dampak. Cukup dengan memaksa lawan menembakkan interceptor mahal secara terus-menerus.
Simulasi tiga puluh hari menunjukkan bahwa perang Iran–Israel pada akhirnya dapat berubah menjadi kompetisi daya tahan industri. Israel dan Amerika memiliki teknologi pertahanan udara paling canggih di dunia. Namun sistem tersebut mahal dan stoknya terbatas. Iran memiliki teknologi yang lebih sederhana, tetapi mengandalkan volume produksi yang lebih besar.
Pada akhirnya, konflik ini mungkin bukan tentang siapa yang memiliki sistem senjata paling canggih. Ia lebih menyerupai ujian stamina dalam skala industri militer. Iran menembakkan rudal murah dalam jumlah besar. Israel dan Amerika membalasnya dengan interceptor paling mahal di dunia. Dalam jangka pendek teknologi Barat mungkin tetap unggul.
Tetapi jika konflik berubah menjadi perang yang lebih panjang, logika perang bisa berubah total. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang mampu menembak jatuh lebih banyak rudal, tetapi siapa yang masih memiliki rudal ketika gudang amunisi mulai kosong. Dalam perang misil modern, kekalahan sering tidak datang dari ledakan terbesar, tetapi dari satu momen sunyi ketika sebuah negara menyadari bahwa napas logistiknya telah habis lebih dulu.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

9 hours ago
4
















































